Kalau dipikir - pikir, Sevila tidak akan bisa bahagia hidup dengan Edo bila dipaksa jadian. Tapi hati keduanya saling berharap. Edo sudah menjadi milik Levani, Sevila sudah menjadi milik Timus. Sangat sulit sekali untuk memutuskan hubungan. Apabila ini terjadi ini akan membuat permusuhan dengan keluarga pasangan masing - masing.
Sevila duduk di kursi goyang di teras rumahnya sambil mendengarkan lagu di sebuah channel radio. Pada saat yang bersamaan Edo juga mendengarkan lagu di channel yang sama di mobilnya ketika ia sedang pergi ke suatu tempat
Mana mungkin terjadi
Mana mungkin terjadi
Terpadu cinta kita berdua
Mana mungkin kudapat Mana mungkin kau dapat Diriku dan dirimu menjadi satu Kau ada yang memiliki Aku ada yang memiliki Walau kita masih saling menyayangi ***
Sevila memutuskan untuk mengakhiri hubungan gelap ini dengan Edo. Ia harus memberitahukan Edo dengan akal sehat agar Edo juga bisa sadar apa yang ia perbuat. Sevila membuat janji kepada Edo untuk bertemu di kafe Starbuck seperti biasa pada jam yang sama.
"Edo, seperti kita harus mengakhiri hubungan gelap ini. Aku rasa tidak baik bila dilanjutkan."
"Kau yakin? Kenapa kau ingin mengakhiri hubungan ini? Aku tentunya akan kembali .."
"Masalah?" Sevila memotong pembicaraannya. Edo pun mengangguk membenarkan perkataan Sevila.
"Semua tentunya ada masalah, Edo. Tidak ada manusia yang tak punya masalah. Menghindari masalah juga tidak baik, sebab itu hanya menunda penyelesaian masalahmu dan akan menambah masalah baru yang mungkin lebih berat. Sebaiknya kau hadapi baik - baik masalahmu."
"Bagaimana bisa aku hadapi masalahku ini?"
"Kamu harus mengubah cara pandangmu. Kau beranggapan bahwa Levani mengekangmu. Bagaimana kalau kau melihat bahwa Levani sebenarnya menaruh perhatian padamu. Apa contohnya yang membuat kamu terkekang?"
"Vani selalu melarang makan makanan yang aku suka. Padahal dia tahu makanan apa yang kusuka."
"Memangnya apa?" tanya Sevila lebih lanjut.
"Kambing." jawab Edo.
"Kambing? Ya jelaslah. Itu bikin kamu bisa kena stroke. Itu berarti Levani sayang denganmu. Coba kalau dia biarkan kamu makan kambing. Matilah kau segera! Aku yakin semua yang dikatakannya tujuannya karena cinta. Dia cinta padamu."
Edo pun menyadari apa yang diucapkan Levani ternyata benar, semua tujuannya adalah sayang. Bukan karena egois karena sudah terikat pertunangan. Edo sangat berterima kasih kepada Sevila yang telah membuka matanya sehingga ia tidak buta akan cinta Levani.
"Aku sadar ternyata aku salah." kata Edo dengan wajah tertunduk.
"Tak apa. Kita belum terlalu jauh. Kembalilah pada Levani-mu. Dia pasti merindukanmu." Sevila berusaha untuk membangkitkan semangat Edo.
"Iya, aku akan kembali. Kau juga. Kembalilah pada Timus-mu. Aku yakin ia membutuhkanmu sekarang."
"Iya, pasti."
Edo dan Sevila pun berpisah pergi ke pasangan masing - masing. Tetapi belum ada jarak 10 meter mereka terhenti langkahnya dan saling menoleh. Lalu keduanya berlari dan saling berpelukan satu sama lain dengan erat. Sebuah perasaan yang bercampur dalam diri sahabat sejati ini. Namun mereka harus bisa menempatkan diri di mana mereka berada. Dan keputusan itulah sudah dibuat yaitu menjalin persahabatan. Mereka menggunakan pita persahabatan yang mereka sebut Pita Merah.
--- SELESAI ---
Terinspirasi dari lagu : Mungkinkah Terjadi - Utha Likumahua
0 comments :
Post a Comment