Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Sabrina, sahabtaku menyampaikan surat itu kepada Dito. Aku menunggu dia segera kembali ke sini untuk menceritakan apa yang terjadi dengan Dito.


"Sudah kuberikan suratnya pada Dito."
"Bagaimana reaksinya? Apa kau lihat ketika ia baca suratku?"
"Aku hanya lihat dari kejauhan. Tidak reaksi, sepertinya terpaku dengan isi suratmu."

Terpaku? Apa maksud dari terpaku? Apakah ia terkejut? Apakah ia tak mau lagi bertemu denganku. Aku terkunci dalam kegelisahan, aku buntu harus berbuat apa. Aku hanya menunggu jawaban hari esok atau nanti, atau tidak kuketahui jawaban itu. Jawaban dari Dito, apakah ia mau berteman dengan orang tuli sepertiku.

Satu jam, dua jam berlalu. Hujan turun begitu deras dan sunyi. Aku masih duduk termenung menunggu kehadiran Dito. Dari kaca jendela yang basah aku melihat sosok hiitam bergerak. Apakah itu Dito yang sedang datang kemari. Ternyata benar itu adalah Dito. Aku segera membukakan pintu untuknya. Ia berdiri di depan pintu depan rumahku sambil menatap diriku dengan tubuhnya yang basah kuyup.


"Velina, aku mengerti sekarang mengapa kau menghindar dariku. Tapi jangan kau lari dariku. Aku selalu ingin bersamamu." katanya tanpa bersuara, melainkan dengan bahasa isyarat tangan.
"Apa untungnya kau denganku? Aku tidak bisa mendengar suaramu, lagumu, aku tuli!" aku berusaha mengatakan sejelas-jelasnya agar Dito mengerti apa yang kuucapkan.
"Benarkah kau tuli?"

"Iya." jawabku mengangguk tanpa kata.
"Kau memang tidak bisa mendengar suaraku, kau memang tidak bisa mendengar nyanyianku, kau memang tidak bisa mendengar suara pianoku. Tapi, aku bisa merasakan betapa besarnya sayangku kepadamu."


Dito memainkan jemari kiri dan kanannya. Ia memetik jarinya tanpa pola yang jelas. Awalanya aku tak mengerti, namun aku teringat beberapa tahun yang lalu ketika aku belajar sandi morse di mana ada simbol garis bawah dan garis miring. Ia menjelaskan kepadaku, jemari kiri adalah garis miring dan jemari kanan adalah garis bawah. Ia menguji beberapa kali supaya aku bisa mengerti apa yang dimaksud olehnya.

Lama-lama seiring berjalannya waktu aku mengerti cara berkomunikasi dengannya tidak pernah kumengerti sebelumnya tentang ini. Aku menjalin hubungan unik dengan Dito dengan modal tulisan dan morse. Seorang gadis tuli menjalani hubungan dengan penyanyi. Menurutku itu hal yang itu langka, namun lelaki yang bisa mengerti keadaanku seperti ini sangat langka aku sudah sepantasnya bersyukur ada yang mau memahami.

Hubungan kami semakin dekat hingga pada suatu hari di ulang tahunku yang ke 18, Dito memberikan sebuah tarian sederhana hanya terdiri dari gerakan hip-hop robotik dan popping. Bagian gerakan itu menunjukkan simbol morse yang mengungkapkan pesan kepadaku. Intinya adalah dia mencintaiku dan ingin menjadi pacarku. 

Hmm.. aku tahu jawaban apa yang akan kujawab.. tentu saja.. 

-- SELESAI --
terinsipirasi dari lagu : Not a Bad Thing - Justin Timberlake 


Sepotong cermin tiada noda
Bening bagai aku memandang

Aku menatap pada cermin suci
Aku menatap mataku
Aku membelai rambutku
Aku merasakan jemariku
Semua sama tiada beda
Hanyalah urat kulitku tua

Sekarang bukan lagi diriku
Aku tak menemukan diriku dalamnya
Melainkan dara cantik
Dara muda, penuh semangat, ceria selalu
Tatapan memakuku
Tenang. . .  Damai. . .  Nyaman. . .

Diakah jodohku?
Ya..


Aku bersandar pada kayu
Menatap jauh lapang tiada batas
Berharap di ujung ada yang datang
Siapa saja tak datang

Hanya burung gereja bernyanyi di antara awan
Sesekali angin menyahut nadanya 
Hingga jadilah tembang merdu
DItambah percikan air dari sungai

Apalah arti suara burung gereja
Hanya cici cuit belakan tiada arti
Mengisi hening fajar
Saingi si jago ayam

Tiada tahu mana burung gereja datang
Bisa saja bawa pesan cinta
Bagai merpati putih
Dikirim oleh pria kepada wanitanya

Akankah jadi padaku
Terima pesan kelaka dari si kecil
Si kecil burung gereja nan mungil
Rela bersenandung di antara langit
Menyeberang danau tua
Mengarungi hutam berular
Menjelajahi gunung Andes di ujung benua

Siapakah kelak mengirim
Apakah dia? Dia? Atau dia?
Kapan kuterima ini..

Katakan padaku
Kata cinta yang manis dalam suratmu
Saat ini kuingin dalam pelukanmu
Lemah lembutmu dalam kasihmu
Takkan kulupakan selamanya
Merambat selalu dalam jantungku
Sebab itulah aku hidup

Semua kata rindumu buatku tak berdaya
Tak kuasa bertemu segera
Menghitung hari sudah kesekian ratus
Lepas rindu tatap mata


Hitam kuning remang
Redup sesekali padam
Bulan tak mampu bersinar
Bahkan api tiada guna

Malam-malam berlalu
Tanpa mimpi nan terang
Ke mana Pemberi mimpi pergi
Hanyalah kosong pergi

Ke manakah kumelangkah
Bagai orang buta aku tak tahu melangkah
Tuntun aku
Di jalan-Mu yang benar

Jadilah pelita untukku
Yang menerangi jalanku
Sehingga aku selamat
Hingga kupulang padaMu


About this blog

Ketika dirimu ada di dalam lembaran-lembaran ini, kau akan melihat tulisan yang tertumpah dari benak-benakku

Labels