Mata
berseru bagai air yang melonjak
Jantung
berdetak tiada tentu cepatnya
Kaki
berganti langkah bak mengejar maling
Tangan
menggeggam membatu jadi titik utuh
Berlari tanpa keringat
Melompat
tiada lelah
Berteriak
tiada nafas
Berpikir
tanpa tidur
Duduk di danau tepian rumah
Bersampan
kerdil dua dayung
Ombaki
air selingan ceritera
seratus
kali ialah satu kali
Satu sampan dua insan
Bersandar
kayu bertatap mata
Lempar
sinyal lempar rasa
Simpan
cinta simpan kata
Berucap
kata kisaran hati
Gigit
jari tutup muka
Malu
mundur berani maju
Mulut
membisu tangan terpaku
Itik
bernyanyi berseru tembang
Melodi
cinta dilantun ke awan
Memantul
ke langit diserap pelangi
Bergema
gema oleh merpati
Diam -
diam semua diam
Lahan
- lahan ku berucap
Pinta
tanya suara kecil
Jantung
mengganggu nadaku berucap
Diam -
diam semua diam
Lontar-lontar
kata cinta
Rayuan
lamaran suci
Berharap
tiada kata tidak
Diam -
diam semua diam
Berucap
katalah dia
Senyum
manis berlebar di awal
Merah
sisi pipi cantiklah ia
Terimalah
ia akan diriku
Kehadiranku
diakuinya
Tubuhku
merasa ringan
Diriku
bagai manusia super
Berani
bersentuh tangan
Kecupkan
di jari bagai pujangga Paris
Tiada
yang berseru lagi
Diam
lagi
Mata
penuh cinta
Menembus
matanya
Merasuki
hatinya
Singgah
selamanya
Tiada
lupa kata manis
Sambil
berdayung sampan
Serta
tatapan mesra
Di
danau itik
I love
you . . .
Cause
I love
Meski
sampan telah terpisah
Diriku
masih mampu bersatu
Bersampan
cinta
Dalam
danau surga
"Ibu tidak tahu.. "
Melani pergi ke kamarnya dengan lesu. Ditatapnya fotonya dengan Andre ketika liburan ke Lourdes, Perancis. Mengingat apa yang dikatakan ibunya membuatnya semakin ingin memutar waktu. Ia memiliki penyakit kanker yang sangat parah, tak terdefinisikan. Waktu hidupnya hanyalah 3 bulan lagi. Sungguh merupakan hal yang sangat berat baginya untuk menjalani hidup dengan batasan waktu yang ia sudah ketahui. Bingung dalam pikirannya apakah ia perlu beritahu Andre atau tidak. Apakah Andre mau menerimanya dalam kondisi yang begitu parah ini? Hidup serasa tidak berarti, waktu sudah mau habis, ajal akan menang menghampirinya. Rasa itu tidak bisa Melani pendam sendiri. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Andre untuk menceritakannya, ia berharap Andre bisa mengerti keadaanya.
"Hai sayang." sapa Andre.
"Sayang, aku mau bilang sama kamu, ini penting." katanya dengan nada galau.
"Duduk dulu lah sayang. Mau minum apa yang?" tanya Andre dengan senyum ceria. Ia tak menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Melani.
"Gak usah sayang. aku mau langsung cerita."
"Oh ya sudah ayo cerita." Andre siap mendengarkan cerita Melani dengan seksama.
"Aku harap kamu jangan marah, kamu janji kamu gak akan ninggalin aku."
Mendengar pemintaan Melani, membuat Andre menjadi bingung sepertinya ada rahasia yang belum diberitahukan. Ini membuat Andre menjadi penasaran.
"Iya, tenang saja."
"Janji?" tanya Melani meyakinkan.
"Aku janji." jawab Andre dengan mengikat kelingking Melani.
"Aku punya kanker. Stadium 4, udah gak bisa ditolong lagi. Aku hidup hanya 3 bulan lagi."
Kata - kata Melani itu tiba - tiba menyambar jantung Andre. Andre mengedipkan matanya berkali - kali, berharap Melani tidak bercanda dengannya. tapi ia juga takut kalau berita itu benar.
"Kamu serius?"
Melani mengangguk, Andre pun menjadi sangat sedih. Jantungnya makin lari, badannya berkeringat ketakutan yang amat besar akan kehilangan Melani. Ia diam tak beranjak dari kursi. Ia memeluk Melani dengan penuh sayang. Keduanya meneteskan air mata saling membasahi bahu mereka. Benar - benar kenyataan yang sangat menyakitkan bila mengetahui pasangannya akan hilang suatu hari.
"Aku akan membahagiakan dirimu, aku akan selalu menemani kamu, aku akan selalu di sisimu, aku berada di samping sayang. Jangan takut. Aku ada untukmu."
Andre memeluk Melani lagi. Ia berusaha menenangkan pikiran Melani yang pastinya sedang kacau menghadapi situasi ini. Andre punya cara untuk menghabiskan waktunya dengan Melani dengan sesuatu yang berharga.
Bulan pertama Andre mengajaknya ke Taman Sakura di Cibodas. Melani sangat suka dengan bunga sakura. Pergi ke Jepang tentunya makan waktu lama dan jauh. Di Indonesia saja juga ada. Untungnya mereka datang pada saat yang tepat ketika bunga sakura sedang mekar. Melani dan Andre duduk tepat di bawah pohon tersebut, ada sebagian kecil bunganya yang jatuh ke tanah. Bunga itu diambil oleh Andre dan ditunjukkan bunga itu kepada Melani.
"Inget gak 3 tahun yang lalu, aku nembak kamu dengan bunga ini?"
"Inget dong sayang. Tapi kamu ngasi replikanya, bukan asli.." kata Melani tersenyum ketika ingat bunga sakura yang dulu dibawa Andre adalah replika, bukan asli.
"Itu hanyalah simbol sayang. Aku sengaja tidak memberikan bunga asli. Intinya adalah aku memberikan tanda cintaku padamu. Untuk memberikan cinta yang tulus aku harus berusaha memberikan yang terbaik dengan cara yang halal. Jika aku memetik bunga, maka bunga itu akan mati. Aku tak ingin ada yang terluka. Aku ingin semua bahagia ketika aku menjadi milikmu."
Kata - kata itu membuat hati Melani mencair.
[To Be Continued . . . ]