Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Kalau dipikir - pikir, Sevila tidak akan bisa bahagia hidup dengan Edo bila dipaksa jadian. Tapi hati keduanya saling berharap. Edo sudah menjadi milik Levani, Sevila sudah menjadi milik Timus. Sangat sulit sekali untuk memutuskan hubungan. Apabila ini terjadi ini akan membuat permusuhan dengan keluarga pasangan masing - masing.

Sevila duduk di kursi goyang di teras rumahnya sambil mendengarkan lagu di sebuah channel radio. Pada saat yang bersamaan Edo juga mendengarkan lagu di channel yang sama di mobilnya ketika ia sedang pergi ke suatu tempat

Mana mungkin terjadi
Mana mungkin terjadi


Terpadu cinta kita berdua
Mana mungkin kudapat Mana mungkin kau dapat Diriku dan dirimu menjadi satu Kau ada yang memiliki Aku ada yang memiliki Walau kita masih saling menyayangi



Kau di sana, aku di sini Satu rasa dalam hati Namun hanya kau yang kusayangi Mungkinkah terjadi


*** 
 




Sevila memutuskan untuk mengakhiri hubungan gelap ini dengan Edo. Ia harus memberitahukan Edo dengan akal sehat agar Edo juga bisa sadar apa yang ia perbuat. Sevila membuat janji kepada Edo untuk bertemu di kafe Starbuck seperti biasa pada jam yang sama.

"Edo, seperti kita harus mengakhiri hubungan gelap ini. Aku rasa tidak baik bila dilanjutkan."
"Kau yakin? Kenapa kau ingin mengakhiri hubungan ini? Aku tentunya akan kembali .."
"Masalah?" Sevila memotong pembicaraannya. Edo pun mengangguk membenarkan perkataan Sevila.
"Semua tentunya ada masalah, Edo. Tidak ada manusia yang tak punya masalah. Menghindari masalah juga tidak baik, sebab itu hanya menunda penyelesaian masalahmu dan akan menambah masalah baru yang mungkin lebih berat. Sebaiknya kau hadapi baik - baik masalahmu."
"Bagaimana bisa aku hadapi masalahku ini?"
"Kamu harus mengubah cara pandangmu. Kau beranggapan bahwa Levani mengekangmu. Bagaimana kalau kau melihat bahwa Levani sebenarnya menaruh perhatian padamu. Apa contohnya yang membuat kamu terkekang?"
"Vani selalu melarang makan makanan yang aku suka. Padahal dia tahu makanan apa yang kusuka."
"Memangnya apa?" tanya Sevila lebih lanjut.
"Kambing." jawab Edo.
"Kambing? Ya jelaslah. Itu bikin kamu bisa kena stroke. Itu berarti Levani sayang denganmu. Coba kalau dia biarkan kamu makan kambing. Matilah kau segera! Aku yakin semua yang dikatakannya tujuannya karena cinta. Dia cinta padamu."

Edo pun menyadari apa yang diucapkan Levani ternyata benar, semua tujuannya adalah sayang. Bukan karena egois karena sudah terikat pertunangan. Edo sangat berterima kasih kepada Sevila yang telah membuka matanya sehingga ia tidak buta akan cinta Levani.

"Aku sadar ternyata aku salah." kata Edo dengan wajah tertunduk.
"Tak apa. Kita belum terlalu jauh. Kembalilah pada Levani-mu. Dia pasti merindukanmu." Sevila berusaha untuk membangkitkan semangat Edo.
"Iya, aku akan kembali. Kau juga. Kembalilah pada Timus-mu. Aku yakin ia membutuhkanmu sekarang."
"Iya, pasti."

Edo dan Sevila pun berpisah pergi ke pasangan masing - masing. Tetapi belum ada jarak 10 meter mereka terhenti langkahnya dan saling menoleh. Lalu keduanya berlari dan saling berpelukan satu sama lain dengan erat. Sebuah perasaan yang bercampur dalam diri sahabat sejati ini. Namun mereka harus bisa menempatkan diri di mana mereka berada. Dan keputusan itulah sudah dibuat yaitu menjalin persahabatan. Mereka menggunakan pita persahabatan yang mereka sebut Pita Merah.



--- SELESAI ---
Terinspirasi dari lagu : Mungkinkah Terjadi - Utha Likumahua

Sevila memulai curhatnya, ia membuka memori lama mengenai masa - masa ia pacaran dahulu dengan Edo. Edo sendiri terbuka memori lamanya ketika ia pacaran dengan Sevila di bangku SMA. Sevila terkenal pandai di bidang bahasa, terutama bahasa Jepang, bahasa Inggrisnya juga tidak kalah jagonya. Sedangkan Edo hanya bisa bahasa Inggris dan semua bidang IPA. Ketertarikan mereka terjadi ketika Edo mengenal bahwa Sevila jago di bidang bahasa dan ketika Sevila mengetahui bahwa Edo sangat jago di bidang MIPA. Hobi mereka ialah sama - sama suka tanaman.

"Edo, ingat gak dulu kamu kasih aku tulip berbetuk hati, jadi kalo dari atas bentuknya hati. Aku inget banget waktu pertama kamu nembak aku di taman deket rumahku."
"Inget dong. Kamu masih simpen bunga dariku?"
"Masih." jawab Sevila sambil menunjukkan bunga tulip plastik buatan Edo yang pernah diberikan kepadanya. Sebenarnya itu adalah bunga mawar. Hanya saja bentuknya dibuat oleh Edo menyerupai tulip.
"Wah kamu masih nyimpen!" Edo tidak menyangka bahwa Sevila masih menyimpan bunga itu.
"Aku kira kau sudah membuang bunga itu. Karena kau sudah punya yang baru."
"Tidak, aku takkan membuang. Ini akan menjadi kenangan manis untukku. Tapi sekarang, aku tumbuh perasaan padamu."

Edo terkejut mendengar pengakuan Sevila bahwa ternyata Sevila kembali tumbuh perasaan terhadapnya.

"Gak mungkin Sevila. Kau miliknya Timus. Kau pasti bercanda." Edo berusaha membubarkan pikiran - pikiran masa lalunya bersama Sevila.
"Aku serius. Makanya aku berkata begini." jawab Sevila meyakinkan.
"Bagaimana mungkin itu sudah lama sekali. Hubunganmu dengan Timus?"
"Timus, aku memang cinta padanya. Tapi aku sayang sama kamu. Kita putus bukan karena salahku atau salahmu, namun karena iman kita berbeda. Orangtua kita tidak setuju."

Edo terdiam mencerna perkataan Sevila. Memang benar tidak ada yang salah diantara dirinya dan diri Sevila. Edo sangat menyayangkan peristiwa itu. Ketika sebuah masalah terjadi perasaan mereka timbul kembali.

"Sekarang mau gimana?" tanya Edo berpasrah.
"Aku tak tahu. Kadang di saat aku gak mood sama Timus. Aku suka kepikiran sama kamu. Aku juga gak ngerti kenapa. Padahal kita sudah punya pasangan masing - masing. Apakah aku cinta sejatimu?"

Edo menggelengkan kepalanya tanda ia tak tahu jawabannya. Ia membasahi lidahnya dengan secangkir kopinya. Lalu melanjutkan pembicaraannya.

"Jalani saja. Kalau ada kesempatan kita bertemu, bertemulah. Aku pasti rindu padamu."
"Aku juga. Jangan sampai pasanganmu tahu akan hal ini. Siapa namanya?"
"Levani."
"Ya."
"Jangan sampai Timus tahu soal ini juga."
"Dia takkan percaya, kau kan sahabatnya sejak kuliah."
"Sahabat bisa jadi masalah kapanpun bila situasi tidak mendukung."

Hubungan Edo dan Sevila lama - lama semakin dekat seperti dulu. Mereka tahu bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang salah, namun mereka belum mampu melawan perasaan itu yang selalu muncul menghantui diri mereka. Setiap malam Edo meng-sms Sevila layaknya pacarnya sendiri meski tidak menggunakan kata - kata mesra, setidaknya memberi perhatian kepadanya. Begitupun juga sama halnya dilakukan Sevila kepada Edo. Semakin lama, perasaan mereka tidak tenang. Sevila mulai terganggu dengan rasa bersalah kepada Timus. Timus yang selalu menyayanginya, memberikan perhatian penuh kepadanya. Dan ia hanya menyia - nyiakan saja. Setiap ada sms dari Edo berisi tentang perhatian kepada Sevila selalu membuat Sevila gelisah. Ia berusaha agak Timus tidak mengetahui apa yang ia lakukan. Bila tahu, tentu Timus akan sakit hati.

[To Be Continued . . . ]


Pagi  - pagi benar Sevila sudah berangkat dari rumahnya menuju sekolah. Hal ini merupakan hari yang berbeda baginya. Tentunya ada alasan mengapa ia hari begitu bahagia. Diambilnya sepeda kesayangannya dan langsung dengan cepat ia mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Sampai di sekolah ia langsung pergi mencari seseorang. Rupanya ia sedang menanti seseorang. Seorang lelaki, yang merupakan kakak kelas diatas setahun, ia sudah kuliah semester 6 satu kampus dengannya di jurusan sastra Jepang. 

Dari jauh Sevila melihat sosok lelaki berjalan menuju ke arahnya, ternyata dialah yang ia tunggu, kekasihnya yang bernama Timus. Ia langsung menghampirinya. 

"Hai sayang!" sapa Sevila. dengan nada genit.
"Hai sayangku." balas Timus dengan pelukan mesra.
"Aku semalam gak bisa tidur mikirin kamu sayang." kata Sevila.
"Kepikiran kenapa sayang?" tanya Timus dengan menatap matanya tajam ke arah Sevila.
"Kan kita kemarin tunangan sayang."
"Oh, kok bisa sih tunangan kemarin buat kamu gak bisa tidur?"
"Ya, itu kan kayak simulasi nikah sayang. Aku pengen lulus terus nikah sama kamu."
"Sabar ya cinta, selesain dulu kuliahmu. Kerja sebentar, baru kita nikah."
"Janji kamu akan nikahi aku?"
"Janji sayangku."

Sevila baru saja bertunangan dengan Timus kemarin. Mereka sudah berpacaran selama 5 tahun. Hubungan mereka tidak pernah ada masalah yang serius. Orangtua mereka sangat mendukung hubungan Sevila dan Timus. Suatu hari Sevila bertemu dengan sahabatnya, Edo di perpustakaan.

"Vil, hari ini kamu kosong gak?"
"Gak sibuk hari ini. Kenapa?"
"Mau curhat nih, lagi masalah sama tunanganku."
"Oh ya sudah. Kau cerita aja nanti. Mau di mana?"
"Starbuck aja. Jam 5."
"Oh oke deh. Ntar aku bilang Timus dulu."
"Sip!"

Sevila menemui Timus untuk meminta ijin pergi ke Starbuck bersama untuk mendengarkan curhat Edo. Timus menyetujuinya, namun ia tidak bisa menemani Sevila karena ada urusan di kantor. Ia hanya bisa mengantarkan Sevila saja dan menjemput pulang.

"Maaf sayang, aku gak bisa temenin kamu." kata Timus.
"Ya sudah, kamu mau anterin aku?" tanya Sevila.
"Iya aku bisa kok sayang. Nanti aku anterin kamu." jawab Timus.
"Makasih sayang." kata Sevila sambil mencium dahi Timus dengan berjinjit.

Sorenya Sevila pergi sendiri ke cafe Starbuck yang telah ditentukan oleh Edo. Sesampainya di sana, ia sudah mendapati Edo yang sedang duduk sebuah kursi makan sambil termenung sendiri memikirkan masalahnya. Sevila langsung menghampirinya memecahkan lamunan Edo.

"Hai, do!" sapa Sevila.
"Eh, Sev." Edo pun bubar dari lamunannya setelah mendengar sapaan Sevila.
"Ayo katanya mau cerita."
"Hmm jadi gini. Pacarku lama - lama buat aku jadi gak nyaman. Egois banget!"
"Egois gimana?"
"Ya mentang - mentang sudah aku dan dia sudah bertunangan, dia seenaknya mengekang aku, kayak aku suka ke mana - mana aja."
"Sabar ya Edo. Ya kamu harus mulai bisa memahami calon istrimu masa depanmu. Ini kan baru awalnya. Masih banyak tantangan yang mesti kamu hadapi."

Edo mendapat pencerahan yang lumayan membantu dirinya sehingga ia tidak selalu mejadi buruk moodnya. Setiap ada masalah dengan tunangannya, Edo selalu berlari kepada Sevila. Berbagi duka dan sakit yang ia rasa kepada Sevila. Awalnya memang tidak apa - apa, amun apabila keseringan ternyata itu menjadi hal yang tidak baik. Edo merasa ada pelita lain di hatinya. Pelita itu tentunya Sevila yang selalu menemaninya di saat ia merasa duka dengan tunangannya. Lama - lama perasaan Edo terhadap tunangannya mulai mengurang berpindah kepada Sevila.

"Sevila, makasih banyak ya sudah membantuku." kata Edo.
"Tak apa kok. Aku senang bisa membantumu. Aku juga mau curhat nih sama kamu."
"Hm.. uda kamu curhatin sebelumnya ke Timus?"
"Belum. Soalnya aku mau kamu tahu ini terlebih dahulu."
"Ya sudah ceritakan saja."





[To Be Continued . . . ]

Melani melantunkan sebuah lagu yang berjudul Tetaplah di Hatiku. Lagu ini dinyanyikan oleh Melani dengan Andre. Melani dan Andre bernyanyi berduet di depan para hadirin. Mereka bernyanyi sambil memegang tangan pasangannya. Mata saling bertatap, kata - demi kata dihayati sungguh - sungguh. Melani pun meneteskan air mata ketika mencapai nada tinggi bagian reffrein lagu tersebut. Pada akhir lagu mereka saling berpelukan. Hadirin semuanya bertepuk tangan dengan meriah ketika pasangan tersebut berpelukan.


Tiba - tiba Melani terjatuh ke lantai. Andre segera menggendongnya dan membawanya ke dalam ruang istirahat. Ibunya Melani segera menelepon ambulan. Ketika ambulan datang Andre mendampingi Melani ke rumah sakit. Ibunya Melani juga ikut bersama dengan Andre menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, jantung Melani dapat tertolong oleh peralatan medis. Melani membuka matanya dan memegang tangan Andre.

"Sayang." panggil Melani dengan nada lesu.
"Sayang, bertahanlah. Kau akan sembuh." Andre berusaha menguatkan Melani yang sudah tak berdaya itu.
"Aku cinta kamu." sahut Melani lembut.
"Aku juga cinta kamu." sahut Andre dengan air mata menetes.
"Jaga anak kita." pinta Melani.
"Iya, aku akan menjaganya."
"Janji?"
"Iya, aku janji sayang."


Melani perlahan - lahan menutup matanya. Melani pun menghembuskan nafas terakhirnya dan pergilah ia dari dunia. Andre tak kuasa melihat kekasihnya pergi meninggalkannya selamanya. Ia pun menangis menjerit, begitupun ibunya Melani. Suasana berkabung menyelimuti diri mereka, kerabat dan saudara - saudara yang mengenal Melani.

Sepuluh tahun kemudian, Andre tinggal bersama anak angkatnya, Alani. Alani bertanya tentang ibunya.

"Papa, mama di mana?"

Namun sebelum Andre menjawab, Andre terpaku pada seoarng gadis muda, mungkin usainya tidak beda jauh lebih muda daripadanya. Persis seperti Melani.

"Permisi." sapa gadis itu.
"Iya, cari siapa?" tanya Andre.
"Saya mau cari Pak Andre." jawab gadis itu.
"Saya sendiri. Anda siapa?"
"Saya Melani.."

-- SELESAI --
terinspirasi dari lagu : Tetaplah di Hatiku - Bunga Citra Lestari

Mata berseru bagai air yang melonjak
Jantung berdetak tiada tentu cepatnya
Kaki berganti langkah bak mengejar maling
Tangan menggeggam membatu jadi titik utuh

Berlari tanpa keringat

Melompat tiada lelah
Berteriak tiada nafas
Berpikir tanpa tidur

Duduk di danau tepian rumah

Bersampan kerdil dua dayung
Ombaki air selingan ceritera
seratus kali ialah satu kali

Satu sampan dua insan

Bersandar kayu bertatap mata
Lempar sinyal lempar rasa
Simpan cinta simpan kata


Berucap kata kisaran hati
Gigit jari tutup muka
Malu mundur berani maju
Mulut membisu tangan terpaku


Itik bernyanyi berseru tembang
Melodi cinta dilantun ke awan
Memantul ke langit diserap pelangi
Bergema gema oleh merpati


Diam - diam semua diam
Lahan - lahan ku berucap
Pinta tanya suara kecil
Jantung mengganggu nadaku berucap


Diam - diam semua diam
Lontar-lontar kata cinta
Rayuan lamaran suci
Berharap tiada kata tidak


Diam - diam semua diam
Berucap katalah dia
Senyum manis berlebar di awal
Merah sisi pipi cantiklah ia


Terimalah ia akan diriku
Kehadiranku  diakuinya
Tubuhku merasa ringan
Diriku bagai manusia super


Berani bersentuh tangan
Kecupkan di jari bagai pujangga Paris
Tiada yang berseru lagi
Diam lagi


Mata penuh cinta
Menembus matanya
Merasuki hatinya
Singgah selamanya


Tiada lupa kata manis
Sambil berdayung sampan
Serta tatapan mesra
Di danau itik


I love you . . .
Cause I love


Meski sampan telah terpisah
Diriku masih mampu bersatu
Bersampan cinta
Dalam danau surga







Di bulan yang kedua, Andre mengajak Melani untuk pergi ke panti asuhan. Di situ terdapat banyak anak balita yang tentunya kurang mendapatkan kasih sayang. Andre tahu bahwa Melani suka sekali dengan anak kecil. Andre dan Melani mengambil salah seorang balita dan  di pangkuan mereka masing - masing. 

"Lihat sayang. Anak ini lucu ya. Pipinya kayak kamu." kata Andre.
"Lucuan ini sayang. matanya biru kayak kamu." kata Melani.
"Kamu mau bawa pulang yang mana sayang?" tanya Andre.
"Bawa pulang? tanya Melani dengan dah menyeringat ketika diminta untuk memilih.
"Iya, aku sudah minta izin untuk merawat salah satu balita selama beberapa bulan."
"Tapi, kenapa kamu mau aku yang memilih dan membawa pulang anak?" Melani masih tidak mengerti apa yang Andre maksud.

Andre duduk lebih mendekat dan membelai rambut balita yang ada di pangkuan Melani dengan penuh kasih sayang. Lalu ia menatap wajah Melani.

"Anggap ini anak kita, sayang."

Kata - katanya membuat mata Melani berkaca - kaca. Melani mengingat akan sisanya hidupnya bahwa ia tak mungkin menikah dengan Andre. Sehingga ia mengerti mengapa Andre menawarkan Melani untuk memilih. Supaya Melani bisa merasakan hidup berkeluarga bersama Andre. Tanpa sepengatahuan Melani. Hal ini sudah direncanakan oleh kedua pihak keluarga masing - masing dan pihak panti asuhan. Melani pun memilih salah satu balita yang wajahnya menyerupai wajah Andre.

"Kenapa kamu pilih dia sayang?" tanya Andre.
"Dia mirip sekali sama kita. Matanya biru kayak kamu, hidungnya kecil kayak aku, suaranya gagah kayak kamu, mulutnya tipis kayak aku. Semakin mirip denganmu, mirip denganku semakin meyakinkan anak ini dari cinta kita. Meski itu bukan secara biologis." jawab Melani.

Melani membawa pulang balita pilihannya untuk diasuh olehnya dan Andre. Sebulan setelah itu tanggal 17 September adalah ulang tahunnya yang ketujuh belas. Belum ada tanda - tanda melemahnya tubuh Melani. Nmaun dokter mengatakan bahwa Melani bisa suatu hari mendadak ambruk karena jantungnya yang bermasalah. Anak angkatnya, yang dinamakan Alani diajak dalam perayaan ulang tahun Melani. Melani memperkenalkan anak angkatnya kepada teman - teman dan saudaranya. Semua para undangan sudah mengetahui akan Melani yang hidupnya tak akan lama lagi. Kira - kira setengah jam setelah acara makan - makan. Melani mulai berbicara di depan umum ingin menyampaikan sesuatu.

"Selamat malam semuanya, kali ini aku ingin menyampai sesuatu. Pertama - tama saya ucapkan banyak terima kasih yang sebesar - besar karena kalian semua bersedia hadir dalam acara ulang tahun saya. Ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidup saya sebelum saya pergi nanti."

Kata - kata awal Melani sudah membuat banyak hadirin bersedih, bahkan ada yang menangis. Adapun hanya meneteskan air mata. Demikian juga halnya dengan Andre, yang juga meneteskan air matanya karena sedih mendengarkan Melani. 

"Sebelum saya menutup acara ini ada sesuatu yang ingin saya berikan pada kalian."
      

[To Be Continued . . . ]

Melani, itulah nama seorang gadis cantik duduk di kelas 2 SMA. Siapapun yang melihatnya akan terpaku menatapnya. Apalagi kalau bukan wajahnya yang imut, menggemaskan, dan lucu kalau berbicara. Tentulah gadis secantik dia sudah punya pacar yang bernama Andre, seorang penari ice skating kelas dunia. Mereka sudah menjalin hubungan cinta kasih selama 3 tahun ketika kelas 9. Tentu sudah banyak suka duka yang dibagikan satu sama lain. Orangtua mereka juga sudah saling mengenal dan memberi isyarat positif bagi Melani dan Andre. Artinya hubungan mereka didukung kuat dari orangtua masing - masing. Tampaknya tak ada penghalang lagi yang menghalangi hubungan mereka. Tinggal menunggu umur, menunggu waktu, menunggu saat yang tepat untuk memasuki jenjang pernikahan. Namun suatu masalah menghantam salah satu dari mereka.  Andre dan Melani pun diuji secara alami kesetiaannya. 

"Maksud ibu?"
"Maafkan ibu, ibu baru bisa beri tahu kamu sekarang."
"Jadi.. aku tak akan bisa merayakan 17 tahunku?"
"Ibu tidak tahu.. "


Melani pergi ke kamarnya dengan lesu. Ditatapnya fotonya dengan Andre ketika liburan ke Lourdes, Perancis. Mengingat apa yang dikatakan ibunya membuatnya semakin ingin memutar waktu. Ia memiliki penyakit kanker yang sangat parah, tak terdefinisikan. Waktu hidupnya hanyalah 3 bulan lagi. Sungguh merupakan hal yang sangat berat baginya untuk menjalani hidup dengan batasan waktu yang ia sudah ketahui. Bingung dalam pikirannya apakah ia perlu beritahu Andre atau tidak. Apakah Andre mau menerimanya dalam kondisi yang begitu parah ini? Hidup serasa tidak berarti, waktu sudah mau habis, ajal akan menang menghampirinya. Rasa itu tidak bisa Melani pendam sendiri. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Andre untuk menceritakannya, ia berharap Andre bisa mengerti keadaanya.




"Hai sayang." sapa Andre.
"Sayang, aku mau bilang sama kamu, ini penting." katanya dengan nada galau.
"Duduk dulu lah sayang. Mau minum apa yang?" tanya Andre dengan senyum ceria. Ia tak menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Melani.
"Gak usah sayang. aku mau langsung cerita."
"Oh ya sudah ayo cerita." Andre siap mendengarkan cerita Melani dengan seksama.
"Aku harap kamu jangan marah, kamu janji kamu gak akan ninggalin aku."
Mendengar pemintaan Melani, membuat Andre menjadi bingung sepertinya ada rahasia yang belum diberitahukan. Ini membuat Andre menjadi penasaran.  


"Iya, tenang saja."
"Janji?" tanya Melani meyakinkan.
"Aku janji." jawab Andre dengan mengikat kelingking Melani.
"Aku punya kanker. Stadium 4, udah gak bisa ditolong lagi. Aku hidup hanya 3 bulan lagi."
Kata - kata Melani itu tiba - tiba menyambar jantung Andre. Andre mengedipkan matanya berkali - kali, berharap Melani tidak bercanda dengannya. tapi ia juga takut kalau berita itu benar.
"Kamu serius?"


Melani mengangguk, Andre pun menjadi sangat sedih. Jantungnya makin lari, badannya berkeringat ketakutan yang amat besar akan kehilangan Melani. Ia diam tak beranjak dari kursi. Ia memeluk Melani dengan penuh sayang. Keduanya meneteskan air mata saling membasahi bahu mereka. Benar - benar kenyataan yang sangat menyakitkan bila mengetahui pasangannya akan hilang suatu hari. 


"Aku akan membahagiakan dirimu, aku akan selalu menemani kamu, aku akan selalu di sisimu, aku berada di samping sayang. Jangan takut. Aku ada untukmu." 


Andre memeluk Melani lagi. Ia berusaha menenangkan pikiran Melani yang pastinya sedang kacau menghadapi situasi ini. Andre punya cara untuk menghabiskan waktunya dengan Melani dengan sesuatu yang berharga.


Bulan pertama Andre mengajaknya ke Taman Sakura di Cibodas. Melani sangat suka dengan bunga sakura. Pergi ke Jepang tentunya makan waktu lama dan jauh. Di Indonesia saja juga ada. Untungnya mereka datang pada saat yang tepat ketika bunga sakura sedang mekar. Melani dan Andre duduk tepat di bawah pohon tersebut, ada sebagian kecil bunganya yang jatuh ke tanah. Bunga itu diambil oleh Andre dan ditunjukkan bunga itu kepada Melani.


"Inget gak 3 tahun yang lalu, aku nembak kamu dengan bunga ini?"
"Inget dong sayang. Tapi kamu ngasi replikanya, bukan asli.." kata Melani tersenyum ketika ingat bunga sakura yang dulu dibawa Andre adalah replika, bukan asli.
"Itu hanyalah simbol sayang. Aku sengaja tidak memberikan bunga asli. Intinya adalah aku memberikan tanda cintaku padamu. Untuk memberikan cinta yang tulus aku harus berusaha memberikan yang terbaik dengan cara yang halal. Jika aku memetik bunga, maka bunga itu akan mati. Aku tak ingin ada yang terluka. Aku ingin semua bahagia ketika aku menjadi milikmu."
Kata - kata itu membuat hati Melani mencair.




[To Be Continued . . . ]