Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Pagi  - pagi benar Sevila sudah berangkat dari rumahnya menuju sekolah. Hal ini merupakan hari yang berbeda baginya. Tentunya ada alasan mengapa ia hari begitu bahagia. Diambilnya sepeda kesayangannya dan langsung dengan cepat ia mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Sampai di sekolah ia langsung pergi mencari seseorang. Rupanya ia sedang menanti seseorang. Seorang lelaki, yang merupakan kakak kelas diatas setahun, ia sudah kuliah semester 6 satu kampus dengannya di jurusan sastra Jepang. 

Dari jauh Sevila melihat sosok lelaki berjalan menuju ke arahnya, ternyata dialah yang ia tunggu, kekasihnya yang bernama Timus. Ia langsung menghampirinya. 

"Hai sayang!" sapa Sevila. dengan nada genit.
"Hai sayangku." balas Timus dengan pelukan mesra.
"Aku semalam gak bisa tidur mikirin kamu sayang." kata Sevila.
"Kepikiran kenapa sayang?" tanya Timus dengan menatap matanya tajam ke arah Sevila.
"Kan kita kemarin tunangan sayang."
"Oh, kok bisa sih tunangan kemarin buat kamu gak bisa tidur?"
"Ya, itu kan kayak simulasi nikah sayang. Aku pengen lulus terus nikah sama kamu."
"Sabar ya cinta, selesain dulu kuliahmu. Kerja sebentar, baru kita nikah."
"Janji kamu akan nikahi aku?"
"Janji sayangku."

Sevila baru saja bertunangan dengan Timus kemarin. Mereka sudah berpacaran selama 5 tahun. Hubungan mereka tidak pernah ada masalah yang serius. Orangtua mereka sangat mendukung hubungan Sevila dan Timus. Suatu hari Sevila bertemu dengan sahabatnya, Edo di perpustakaan.

"Vil, hari ini kamu kosong gak?"
"Gak sibuk hari ini. Kenapa?"
"Mau curhat nih, lagi masalah sama tunanganku."
"Oh ya sudah. Kau cerita aja nanti. Mau di mana?"
"Starbuck aja. Jam 5."
"Oh oke deh. Ntar aku bilang Timus dulu."
"Sip!"

Sevila menemui Timus untuk meminta ijin pergi ke Starbuck bersama untuk mendengarkan curhat Edo. Timus menyetujuinya, namun ia tidak bisa menemani Sevila karena ada urusan di kantor. Ia hanya bisa mengantarkan Sevila saja dan menjemput pulang.

"Maaf sayang, aku gak bisa temenin kamu." kata Timus.
"Ya sudah, kamu mau anterin aku?" tanya Sevila.
"Iya aku bisa kok sayang. Nanti aku anterin kamu." jawab Timus.
"Makasih sayang." kata Sevila sambil mencium dahi Timus dengan berjinjit.

Sorenya Sevila pergi sendiri ke cafe Starbuck yang telah ditentukan oleh Edo. Sesampainya di sana, ia sudah mendapati Edo yang sedang duduk sebuah kursi makan sambil termenung sendiri memikirkan masalahnya. Sevila langsung menghampirinya memecahkan lamunan Edo.

"Hai, do!" sapa Sevila.
"Eh, Sev." Edo pun bubar dari lamunannya setelah mendengar sapaan Sevila.
"Ayo katanya mau cerita."
"Hmm jadi gini. Pacarku lama - lama buat aku jadi gak nyaman. Egois banget!"
"Egois gimana?"
"Ya mentang - mentang sudah aku dan dia sudah bertunangan, dia seenaknya mengekang aku, kayak aku suka ke mana - mana aja."
"Sabar ya Edo. Ya kamu harus mulai bisa memahami calon istrimu masa depanmu. Ini kan baru awalnya. Masih banyak tantangan yang mesti kamu hadapi."

Edo mendapat pencerahan yang lumayan membantu dirinya sehingga ia tidak selalu mejadi buruk moodnya. Setiap ada masalah dengan tunangannya, Edo selalu berlari kepada Sevila. Berbagi duka dan sakit yang ia rasa kepada Sevila. Awalnya memang tidak apa - apa, amun apabila keseringan ternyata itu menjadi hal yang tidak baik. Edo merasa ada pelita lain di hatinya. Pelita itu tentunya Sevila yang selalu menemaninya di saat ia merasa duka dengan tunangannya. Lama - lama perasaan Edo terhadap tunangannya mulai mengurang berpindah kepada Sevila.

"Sevila, makasih banyak ya sudah membantuku." kata Edo.
"Tak apa kok. Aku senang bisa membantumu. Aku juga mau curhat nih sama kamu."
"Hm.. uda kamu curhatin sebelumnya ke Timus?"
"Belum. Soalnya aku mau kamu tahu ini terlebih dahulu."
"Ya sudah ceritakan saja."





[To Be Continued . . . ]

0 comments :

Post a Comment