Rumahku seperti bukan rumah
ketenangan
Nafas tangisan menggaung di setiap dinding kedustaan
Jeritan wanita membanjiri telinga hingga kepalaku
Rasa ini teredam oleh air mata dingin
Saat tentu gonggongan pria
meraung-raung mengisi malam kematian
Disahut oleh tolakan nada wanita yang terhapus oleh nafas kesedihan
Sejenak gempa hati ini mereda
Meninggalkan tangisan bisu diri
ibuku
Aku masih kecil, aku tak tahu apa
perang artinya di rumah ini
Aku bertanya tidak pernah
terjawab oleh kata
Hanya pelukan cinta dari ibu
Lalu.. Kenapa menangis?
Aku bertambah dewasa bertambah
waktu terlewati
Namun tangisan bisu ibu tidak
pernah terhenti
Karena ada selalu yang ketiga
mengikis harmoni keluarga
Merobek-robek hati ini menjadi
pecahan tiada bentuk
Sang pria menggandeng dengan
cinta terlarang dalam dirinya
Bersama dengan yang ketiga dalam
ikatan cinta buta
Pelukan palsu, ciuman haram,
sentuhan terlarang, tatapan dewi succubus terekam dalam memori oleh dua
mata yang bersaksi
Sekeji itukah pria?
Mengapa harus demikian?
Kurangkah tangisan ibuku yang
menjerit ke surga
Dan air mata menerjuni pipinya
Tiga itu memang perusak
Jangan sampai jadi yang ketiga
Hati luka berdarah air mata tak
terbatas
Mengalir di sela-sela tubuh nan peka nyeri
Namun tak mengubah sesuatu berarti
Luka perih sakit dan duka adanya saja
Entah hati ini salah menilai kah
Entah otak kepala tak teliti berpihak mula-mula benarkah
Kebenaran yang kupilih seakan adalah kesalahan terbesar
Namun kesalahan yang terhindar
adalah penyesalan terpanjang
Hari ini sakit besok sakit dan lusa mati
Hari ini kuat besok keras dan
lusa hancur
Rintihan tangisan bisu terendam air mata suci
Setiap tetes adalah butiran cinta
yang musnah ditelan dusta
Perihnya hati ini sedalam pisau
cinta tertanam dalam jantung rapat
Semakin dalam semakin tak
tertahan jika begini jadinya
Pria benar tidak berlangsung
benar selamanya
Namun hati tak mampu prediksi
kelaknya pria di masa depan
Pasrah ialah jawaban akhir dari keputusasaan
Entah apa arti jodoh dari Tuhan maknanya
Seakan tiada untung di akhir usia
Sesak nafas terhambat atmosfer
kobohongan
Kelak selesaikan derita ini
dengan .. Mati dan .. selesai
Bukan jawaban itu untuk wanita yang tersakiti
Buah hati yang tercipta jadikan
nyawa kedua
Adanya dia karena cinta suci masa
lalu?
Mentari tiada bosan lelah
hangatkan jiwaku nan lesu
Jalani hidup sama dan kesenangan hati
Demi menyambungkan hariku dengan hari berikutnya
Dalam siklus kehidupan ini yang tiada tahu kapan akhirnya
Aku berpacu di jalan panjang siap menyambut langit angkasa
Disambut senyuman mentari pagi dari kejauhan
Menemani kesunyian di antara awan
putih
Fajar hingga siang menjemput tak ada sadar diri ini
Hanya badan jadinya lelah di akhir
Angin menerpa badan ini hingga
tari-tarian tak aturan di langit bebas
Langit luas namun tak beruang
untuk kesalahan
Otot dan besi menyatu menjadi
satu tujuan
Nyawa umat manusia di genggaman
tangan
Kulirik dengan bola mataku ke
bawah awan
Rindu akan dentuman lagu keras
kuinginkan
Menggetarkan jantung ini tiada
akhir
Karena di sini sunyi adanya
tenang selalu
Hinggaku menjejakkan di kulit
luar bumi akhirnya
Kunikmati lantunan musik
penyemangat jiwa
Membugarkan segala diriku yang
lemah dan mati
Hingga kembali merindukan keadaan
di atas awan
Karenanyalah di sini suara dan
suara menyelimuti tubuhku