Sabrina, sahabtaku menyampaikan surat itu kepada Dito. Aku menunggu dia segera kembali ke sini untuk menceritakan apa yang terjadi dengan Dito.
"Velina, aku mengerti sekarang mengapa kau menghindar dariku. Tapi jangan kau lari dariku. Aku selalu ingin bersamamu." katanya tanpa bersuara, melainkan dengan bahasa isyarat tangan.
"Apa untungnya kau denganku? Aku tidak bisa mendengar suaramu, lagumu, aku tuli!" aku berusaha mengatakan sejelas-jelasnya agar Dito mengerti apa yang kuucapkan.
"Benarkah kau tuli?"
"Iya." jawabku mengangguk tanpa kata.
"Kau memang tidak bisa mendengar suaraku, kau memang tidak bisa mendengar nyanyianku, kau memang tidak bisa mendengar suara pianoku. Tapi, aku bisa merasakan betapa besarnya sayangku kepadamu."
Dito memainkan jemari kiri dan kanannya. Ia memetik jarinya tanpa pola yang jelas. Awalanya aku tak mengerti, namun aku teringat beberapa tahun yang lalu ketika aku belajar sandi morse di mana ada simbol garis bawah dan garis miring. Ia menjelaskan kepadaku, jemari kiri adalah garis miring dan jemari kanan adalah garis bawah. Ia menguji beberapa kali supaya aku bisa mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Lama-lama seiring berjalannya waktu aku mengerti cara berkomunikasi dengannya tidak pernah kumengerti sebelumnya tentang ini. Aku menjalin hubungan unik dengan Dito dengan modal tulisan dan morse. Seorang gadis tuli menjalani hubungan dengan penyanyi. Menurutku itu hal yang itu langka, namun lelaki yang bisa mengerti keadaanku seperti ini sangat langka aku sudah sepantasnya bersyukur ada yang mau memahami.
Hubungan kami semakin dekat hingga pada suatu hari di ulang tahunku yang ke 18, Dito memberikan sebuah tarian sederhana hanya terdiri dari gerakan hip-hop robotik dan popping. Bagian gerakan itu menunjukkan simbol morse yang mengungkapkan pesan kepadaku. Intinya adalah dia mencintaiku dan ingin menjadi pacarku.
Hmm.. aku tahu jawaban apa yang akan kujawab.. tentu saja..
-- SELESAI --
terinsipirasi dari lagu : Not a Bad Thing - Justin Timberlake