Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Aku meninggalkan dunia ramaiku, mencari tempat kesunyian di mana aku menemukan kesederhanaan dalam hidupku di sana. Aku beranjak dari Jakarta menuju Wonosari, tepatnya di desa Jurang Jero yang berarti jurang yang dalam. Beruntungnya rumahku tidak jauh dari kapel tempat aku berkumpul dengan teman-teman. Aku tinggal bersama keluarga yang cukup mapan. Rumah yang tidak terlalu sederhana seperti yang kubayangkan. Keluarga yang aku tinggali adalah seorang petani, sawah dan ladang. Beliau memiliki ladang kacang, kangkung, singkong, padi, dan jagung. Ladangnya tersebar sangat jauh dari rumah sehingga aku harus menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lama untuk mencapai ladang. Jalan yang kutempuh bukanlah jalan datar, melainkan tanah, berbatu menanjak hampir 40 derajat miringnya. Itu baru satu hari, sedangkan orangtuaku bisa melakuakn itu setiap hari ketika panen. Benar-benar luar biasa, sungguh-sungguh melelahkan, padahal aku sudah merasa kuat untuk pekerjaan berat. Tetapi ini merupakan yang terberat dalam hidupku. Ternyata orang-orang desa lebih kuat dari aku bayangkan. 

Kehidupan di sana jauh berbeda dengan di kota, ada beberapa yang sama seperti makanan. Makanan di rumah dan di desa hampir sama yaitu nasi, tempe, ayam kecil, kerupuk, mi dan lain-lain. Bahkan di desa bisa dikatakan berlebihan. Karena aku mesti menghabiskan makanan yang sudah disediakan. Kadang-kadang perut terasa ingin muntah karena kebanyakan makanan. 

Urusan tidur dan kebersihan sangat jauh berbeda, aku harus terbiasa tidur di kasur keras, bantal keras tanpa guling. Satu kasur berdua, benar-benar sempit, karena teman sekamarku besar sekali. Tidur dengan atap langsung genteng tanpa langit-langit hanya dilindungi dengan kain tipis agar debu tidak kena di wajah. Tetapi tetap saja ada debu yang lolos dan membuatku bersin. Aku punya alergi terhadap debu. Jadi tiap malam aku selalu pilek. Urusan mandi, cukup sulit karena jauh dari rumah dan harus berjalan di sebuah turunan yang agak membahayakan jika tak hati-hati. DI kamar mandi itu terkadang ada kodok yang membuatku enggan untuk mandi. Kamar mandinya sudah modern, sudah ada pompa air dan temboknya terbuat dari semen.

Untuk hiburan selama live-in aku biasanya bermain dengan anak di rumah. Keluarga itu memiliki 4 anak. 2 di Jakarta dan 2 lagi di rumah. Aku lebih suka ngobrol, memberi makan, duduk-duduk dengan anaknya. Setiap hari kerjaanku jika tidak ke ladang adalah memberi makan kambing, sapi dan ayam, makan pagi, makan siang, makan malam. Kalau pekerjaan selesai aku biasanya membantu tetangga kupas jagung. Kalau pada malam hari aku menikmati acara TV bersama dengan keluarga, kami biasa nonton SpongeBob atau acara lawak lain. Tetapi kalau mereka sudah tidur atau tidak ingin menonton, aku lebih suka nonton film Korea. Tak kusangka ada channel Korea di desa ini, di rumahku saja tidak lengkap.

Adapun kebiasaan yang juga berbeda dengan di rumahku. Seperti makan bersama, aku selalu makan dengan bapakku, tidak pernah dengan ibu dan adikku. Setiap aku ajak makan bersama, mereka hanya bilang, 'nanti kami menyusul'. Aku akhirnya bosan mengajak mereka karena jawabnya hanya itu-itu saja. Mereka semua hafal dengan nama tetangga dari kakek-nenek hingga anak dan cucunya. Aku saja tidak pernah mengenal tetangga sendiri. Satu lagi ialah semakin rendah datarannya, maka semakin tualah penghuni rumah itu. Jika ada rumah di daerah dataran yang tinggi, berarti ia adalah anak dari rumah yang ada di bawahnya. Benar-benar unik sekali. Banyak hal yang bisa kupelajari dalam live-in ini, hal akan membawa perubahan bagi diriku

Aku tidak mengerti mengapa aku harus jatuh cinta dengan dia. Dia yang seorang pemusik, dia yang hidup dengan suara-suara merdu. Sedangkan aku hanyalah pendengar kebisuan yang tak akan mengenal suara, apalagi bising. 

Aku menyimpan CD itu di dalam tasku dan aku pulang ke rumahku. Keesokan harinya di tempat yang sama, aku bertemu dengan Dito lagi. 
"Selamat pagi."
"Pagi." balasku dengan singkat.
"Kau hari ini mau ke mana?"
"Beli sayur." jawabku sesingkat mungkin agar aku tidak dicurigai.
"Oh, hari ini kamu mau bernyanyi denganku?"
"Bernyanyi?"
Aku sebenarnya ingin sekali bernyanyi dengannya. Tapi apakah aku bisa? Aku tidak pernah mendengarkan lagu. Apalagi bernyanyi. Aku mencari alasan untuk menolaknya. 

"Aku harus cepat pergi. Ibuku menungguku."
"Kapan kau bisa? Aku akan menunggumu."
"Aku tak tahu."
"Tanyakan pada ibumu."
"Iya, akan kutanyakan nanti."

Aku segera berlalu darinya segera. Aku merasa berada diantara rasa menyesal dan lega. Menyesal karena tidak menerima tawaran Dito. Lega karena akhirnya aku tidak menyanyi sebab aku tak tahu lagunya dan aku takut jika Dito tahu bahwa aku tuli. Andai aku bisa mendengar suaranya, mendengar lagunya. Aku akan menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Aku akan mengulang terus lagunya berkali-kali. Namun kenyataannya adalah aku harus puas dengan melihat senyumannya saja. 

Keesokan harinya aku bertemu dengannya dan kali ini ia mengajakku kencan.

"Kamu mau jalan sama aku hari ini?"
"Aku tidak bisa, aku harus pergi." aku berusaha menghindar darinya. Aku tak mau hubunganku diperparah bila ketahuan aku tuli. Aku berusaha menolaknya berkali-kali.
"Mengapa kau tak mau?"  tanya Dito dengan penuh penasaran.

Aku menggelengkan kepalaku dan segera pergi darinya sebelum ia bertanya lebih lanjut. Tetapi tangan kiri ditarik olehnya sehingga aku pun tertahan. aku berhenti dan menolehnya. Aku melihat wajahnya yang penuh harapan kepada diriku. Tapi keputusanku sudah bulat, aku tak mau pergi dengannya. Aku tak mau hal buruk terjadi. Biarkan kita begini saja, tak ada hal yang lebih, aku juga tidak berharap lebih. Tangan Dito masih menggenggam erat tanganku, terpaksa aku melepaskan tanganku agak kasar. Aku berlari menjauhi darinya. Dito mengejarku, aku tidak menoleh ke arahnya sehingga aku tak tahu kalau Dito memanggilku atau mengatakan sesuatu. Aku berlari ke arah rumahku dengan cepat dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dito sepertinya tak berani masuk ke dalam rumahku. Aku mengintip dari jendela. Dito sudah lelah, ia menghela nafasnya berkali-kali. Ia tampak kecewa mengejarku, akhirnya ia pulang dengan lesu.


"Siapa dia?" tanya ibuku yang tiba-tiba hadir di sampingku.
"Dito, temanku."
"Kenapa tidak disuruh masuk?"
"Aku tak mau ia tahu lebih dalam tentangku." jawabku pelan.
"Temanmu Sabrina saja tahu. Mengapa dia tidak?"
"Aku jatuh cinta padanya, Bu. Aku tak mau ia pergi karena tahu aku tuli. Lebih baik begini saja, aku bisa dekat tapi aku tak mau hubungan ini berlanjut."
"Cepat atau lambat dia akan tahu. Kalau dia meninggalkanmu karena kondisimu begitu, berarti ia bukanlah laki-laki yang pantas untukmu. Tidak menerima apa adanya. Kita lihat saja apa dia lelaki yang benar atau tidak."

Perkataan ibuku benar, aku harus menguji laki-laki itu, aku tidak boleh terlarut dalam perasaan ini sebelum aku mengetahui apakah dia laki-laki yang baik atau bukan. Tapi.. aku tidak tahu apakah ia suka padaku atau tidak. Jangan-jangan tidak. Aku kegeeran berarti. Tapi aku tetap percaya diri. Aku menuliskan surat kepadanya yang isinya demikian,


Dito,
Maafkan aku selama ini yang selalu menghindar darimu. Aku tidak sama denganmu, aku tidak bisa mendengar, aku takkan pernah mendengar suaramu, aku takkan pernah mendengarkan lagumu. Aku tidak mengenal musik. Bahkan aku masih penasaran bagaimana suara piano itu? Orang bilang indah. Seindah apakah suara piano itu. Aku hidup dalam kesunyian, tak seperti dirimu bisa menikmati arti dari nyanyianmu. Aku hanya bisa mengagumi caramu menarikan jemarimu di atas piano. Itu saja sudah cukup bagiku


Velina.






Surat itu aku titipkan kepada Sabrina, sahabatku supaya ia memberikan surat itu kepada Dito, semoga Dito bisa mengerti. Aku tidak ingin Dito meninggalkanku karena ketulianku.


Aku seorang gadis. Seorang gadis yang berbeda. Berbeda dengan gadis lain. Gadis lain bertelinga. Bertelinga dengan fungsi yang baik. Fungsi yang baik tidak kumiliki. Aku gadis tuli. Tuli sejak lahir. Aku tidak pernah mendengar suara ibuku. Aku tak pernah mendengar pujian ayahku. Aku tak pernah mendengar tawa sahabatku. Aku tak pernah mendengar lantunan lagu. Hidupku dalam kesunyian. Aku hidup dengan mataku. Aku hanya bisa menikmati pemandangan tanpa suara. Hal yang membahagiakan dalam hidupku adalah melihat orang lain tersenyum. Senyum tidak membutuhkan suara, tetapi sudah menenangkan hatiku.

Aku berjalan di sebuah mall di kota besar hendak membeli barang belanja kebutuhan sehari-hari. Cuaca cerah hari ini membuatku lebih bersemangat dari biasanya. Karena biasanya cuaca selalu berawan, namun tak pernah hujan. Aku sering melewati taman kota. Hari itu ada sebuah pertunjukan piano. Aku tak tahu dari mana asalnya. Pianis itu seorang laki-laki muda. Ia tampan, aku suka wajah tertunduknya ketika ia menekan tuts dengan jarinya sambil menyanyikan lagu. Entah lagu apa itu aku tak peduli. Aku bergarap ia akan memberikan sedikit sorot matanya kepadaku meski hanya kurang dari sedetik.

Benar! Ia memberi sorot matanya kepadaku tapi lebih  dari 1 detik, kira-kira 2 detiklah lamanya. Aku melanjutkan langkahku menuju supermarket di mall yang sudah tak jauh lagi. Kutinggalkan pianis itu. Berharap aku bisa melihatnya lagi. Meski aku tidak bisa berharap banyak dan aku tak ingin ia mengenaliku lebih jauh tetapi menatap dari jauh sudah membuatku tenang. Begitulah caraku jatuh cinta.


Setelah kuberbelanja, kukembali melewati jalan tadi. Pianis itu masih ada di sana baru saja menyelesaikan penampilannya. Aku merasa pianis itu mencari wajahku, aku agak sedikit malu untuk menghadapinya, namun aku coba untuk sedikit memberikan wajahku. 


Ternyata benar pianis itu mencari aku, Ia memberikan senyumannya kepadaku. Tidak ada yang tahu bahwa pianis itu sedang menatap aku. Aku langsung berlalu darinya melanjutkan langkahku ke rumah.


Keesokan harinya aku berjalan-jalan ke taman kota lagi, berharap aku bisa bertemu dengannya. Di taman itu tidak seperti kemarin. Taman itu sepi tidak ada orang. Ternyata dia tidak tampil. Ke mana aku harus mencari? Hmm.. sebaiknya aku pulang saja. 


Saat aku melangkah pulang, ada sebuah tangan menarik tangan kananku. Aku terhenti dan menengok ke belakang. Ternyata lelaki yang kemarin kulihat itu. Aku berusaha berkonsentrasi membaca gerak mulutnya. 


"Hai, ini buat kamu."


Aku membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengartikan bahasa mulutnya aku sulit sekali untuk menterjemahkan bahasa mulutnya. Aku sama sekali tidak mampu mengartikannya. Aku mengartikan bahwa lelaki itu ingin memberikan album CD-nya kepadaku. Aku sebenarnya ingin menolak karena percuma saja aku menerima, aku tidak bisa mendengarkan lagunya. Tapi kalau aku tidak terima, aku merasa tidak enak dengannya.


Aku menerimanya dengan senyum tanpa mengatakan apa-apa. Lelaki itu memperkenalkan dirinya, aku membaca gerak mulutnya. Dia bernama Dito. Aku mengangguk tanda bahwa aku mendengarkan. Lalu ia menanyakan namaku, aku berusaha menjawab seperti orang tidak tuli dengan jelas. 


"Namaku Velina." kataku dengan nada cukup keras.


Dito menanggapi dengan kata 'o'. Sehingga aku bisa menilai bahwa aku bisa berbicara dengan orang normal. Sebab selama ini aku jarang berbicara dengan orang lain selain orangtuaku dan sahabatku. Aku berpamitan pulang kepada Dito. Kemudian aku berlari meninggalkan dirinya agar ia tidak curiga aku tuli. Bisa saja ia memanggilku atau mengatakan sesuatu. Aku tak mau ia tahu bahwa aku tuli.


Setelah aku jauh darinya, aku berjalan seperti biasa. Aku berhenti di sebuah kafe kecil. Aku masih ke dalam untuk beristirahat sebentar. Aku duduk di kursi dekat jendela. Aku membuka CD pemberian Dito. Cover depan CD itu adalah fotonya dengan judul albumnya Hidup. Ada lima lagu di dalam CD itu. Judul lagu-lagu itu adalah Bertemu, Menjalin Cinta, Bersama, Masa Tua, dan Surga. Aku mengartikan itu sebagai suatu jalan hidup yang ditempuh oleh seseorang yang menerima panggilan hidup berkeluarga. Andai aku bisa mendengarkan lagu ini..


Percuma saja aku menerima CD ini, aku tak mampu mendengarkan isinya. Sebaiknya aku kembalikan saja CD ini, tapi sebelum aku kembalikan, aku meminta tolong kepada pelayan untuk memutarkan isi lagu tersebut. CD itu diputar hingga semua lagu selesai, aku tidak bisa mendengarkan lagu itu, tapi bisa merasakan beat lagu tersebut bergetar di hatiku. Ada energi baru dari Dito yang membuatku semangat untuk hidup meski aku tuli. 


Aku meminta penjelasan mengenai isi lagu tersebut dari pelayan kafe itu. Ternyata isi lagu yang berjudul Bertemu menceritakan tentang pengharapan akan hadirnya seseorang. Aku menjadi penasaran dengan suara. Tapi apa dayaku, aku tidak ditakdirkan untuk tidak mendengar suara.


[To Be Continued . . . ]

Aku memundurkan memoriku ke masa lalu, ke dalam mimpi, mimpi yang menjadi misteri, sama sekali kutak mengerti mengapa bisa terjadi. Aku melihat sama seperti yang kulihat sekarang. Sebuah lubang besar yang dibuat oleh bola emas itu. Tapi apa maksudnya?

Aku mundur ke mimpiku sebelumya 5 tahun yang lalu, aku berjalan dengan seorang gadis yang namanya Liu Fei. Dalam mimpiku aku terbang ke langit bersamanya. Aku dan dia saling merindu, kami terpisah karena dunia yang berbeda. Liu Fei berada di dalam mimpi dan aku di dunia nyata. Bila suatu saat aku mati, aku yakin akan bertemu dengan Liu Fei. Tapi aku harus memiliki bola emas sebagai kuncinya.

Mundur lagi ke mimpi 20 tahun yang lalu saat aku berumur 5 tahun. Aku bertemu pertama kali dengan Liu Fei di sebuah taman Ai Meili. Taman tiada batas jikalau berlari tak bertemu ujungnya. isinya penuh dengan bunga, pohon, dan rerumputan yang indah. Juga terdapat binatang-binatang yang lucu. Aku berkenalan dengannya dan kami bermain bersama. Tiada hari tanpa dirinya, kami terasa tidak terpisahkan. Hal yang kuingat pertama kali bertemu dengannya adalah bola emas.

Aku kembali ke asalku. Di mana aku melihat Ciela di dekat lubang raksasa.
"Kau sudah ingat."
"Kau bukan Ciela." aku berusaha meyakinkan diriku. Aku mengira dia adalah Liu Fei.
"Aku Ciela." katanya meyakinkan diriku.
"Tidak mungkin!" aku membatahnya.
"Aku Ciela, Liu Fei Jie La (jie--> dibaca Cie)"
"Apa??"

Aku tidak menyangka teman kecilku adalah gadis yang ada di dalam mimpiku. Namun aku tetap berusaha berpikir rasional. Nama dia bukan Liu Fei Jie La, melainkan Ciela Marshani.
"Kau Ciela Marshani."
"Bukan. Aku adalah Liu Fei yang kau rindukan."
"Jadi.."
"Saatnya aku pergi Adi, aku harus ke surga. Aku sudah terlalu lama memakai tubuh ini. Tubuh ini adalah milik Ciela Marshani, kekasihmu sesungguhnya, aku adalah kekasih dalam mimpimu. Aku tak berhak mengganggumu lagi. Aku ingin mencari bola emas itu supaya aku bisa kembali ke surga bersama keluargaku, sebagai kunci masuk."
"Liu Fei!" aku berusaha menghentikannya namun ia sudah menjadi arwah bayangan, yang tak dapat kusentuh. Aku melihatnya ia terbang ke arah lubang dan menghilang di balik kegelapan. Mengapa surga ada di dalam bumi? di dalam tanah? Apakah selama ini orang salah menyatakan surga ada di atas langit?

Aku menggendong tubuh Ceila Marshani. Aku harus mengenalnya lebih jauh tentang dirinya, sebab yang kukenal selama ini adalah Liu Fei Jie La. Aku buka ikatan rambutnya, benar - benar mirip sekali dengan Liu Fei. Aku selama ini tidak menyadari perbedaannya di dalam mimpi dan dunia nyata. 

Setelah kukenal lebih jauh tentang dirinya ternyata silsilah keluarganya merupakan silsilah raja-raja Cina zaman dahulu. Dia masih keturunan kerajaan. Sekarang dia telah menjadi pacarku. Dia juga ternyata suka tentang benda-benda prasejarah. AKu menjalani hubungan cintaku dengannya hingga 2 tahun kemudian aku menikah dan memliki anak perempuan yang kami beri nama Liu Fei Jie La.

-- SELESAI --
terinspirasi dari lagu : Endless Love - Jackie Chan & Kim Hee Seon

Aku turun dari mobil dan mengikuti arah anak panah yang menyala di bola itu. Ciela juga turun mengikutiku. Sementara yang lain mengikutiku dari dalam mobil. Aku terhalang oleh sebuah gedung aku berjalan di sisi gedung itu. Namun panah bola itu tetap menunjuk ke arah gedung. Apa mungkin ada rahasia yang tersimpan di dalam gedung tersebut? 

"Bos, temukan sesuatu?"
"Belum, tapi sebaiknya kita masuk ke gedung ini."
"Ini Bank Cina. Bos mau masuk ke mana?"
"Aku juga tak tahu. Ikuti saja perintah bola emasnya"

Aku dan Ciela masuk ke dalam bank tersebut. Sementara teman-temanku memakirkan mobil. Aku meminta izin kepada pegawai bank untuk melakukan eksplorasi bank dengan penjagaan oleh satpam bank. Aku mencari sesuatu yang disembunyikan bola emas itu. Hingga akhirnya bola emas itu menyala sangat terang ketika aku dan Ciela sampai di sebuah ruangan kerja direktur bank tersebut.

"Apa yang anda temukan?" tanya direktur bank Cina itu.
"Entahlah, tapi bola ini memberitahukan petunjuk akan sesuatu." jawabku.

Aku meletakkan bola emas itu dilantai. Bola itu menggelinding sendiri mengarah pintu masuk ruang direktur.

"Apa lantai ini miring?" tanyaku kepada direktur.
"Tidak, gedung ini dirancang oleh arsitek profesional dari Amerika."

Aku memperhatikan dan mengikuti ke mana bola itu pergi. Lalu bola tersebut berhenti di suatu tempat yaitu di ruang kerja karyawan. Bola itu terdiam. aku berjongkok dan memperhatikan dengan seksama apa yang bola emas lakukan. Bola itu ternyata melubangi lantai dan jatuh di lantai bawah di lantai 5. Aku segera memperintahkan anak buahku untuk menangkap bolanya di lantai satu dan dua.

"Lao, Lim jaga lantai dua! Steve, Ben, dan Toni jaga di lantai satu."
"Siap Bos!" jawab mereka lewat handy talky.
"Ciel, ayo kita turun lewat tangga."

Aku dan Ciela menuruni tangga darurat untuk mengejar bola. Ketika aku berada di lantai 3 Lao memanggilku,
"Bos, aku tidak sempat menghentikan bolanya."
"Ke bawah sekarang! Steve lapor!" perintahku.
"Bola berhasil diamankan. Tapi kondisinya panas sekali, sekitar 70 derajat. Kami kurung dengan box besi."
"Bagus."

Akhirnya aku sampai di lantai dasar, aku melihat bola itu melubangi box besi. Lalu jatuh ke lantai dan melubangi lantai itu. Namun lubang yang dibuatnya lebih besar. Aku meminta semua untuk mundur. Tetapi Ciela malah maju ke depan.

"Ciela, mau apa kamu kenapa kamu ke sana?"
"Aku harus ke sana."
"Apa maksudmu?" di saat yang terdesak di mana aku harus meninggalkan tempat itu. Ciela malah mencari mati.
"Kau harusnya tahu."
"Tahu apa?"
"Mimpi."
"Mimpi?"

[To Be Continued . . . ]

Mimpiku, hidup seperti nyata. Mengapa bisa begini, aku sendiri pernah tahu. Di mimpi ada di nyata ada. Apakah De Javu ataukah bukan, apakah halusinasi, apakah bayangan saja, apakah aku gila, mana ada yang tahu. Jika malam aku di sini, maka aku bangun di suatu tempat lain saat tak terjaga, seperti punya dua kehidupan. 

"Tuan Adi, coba lihat ini." kata anak buahku yang juga seorang arkeolog sepertiku bernama Ciela. Ia menyerah kepadaku sebuah bola emas yang mirip hiasan pohon natal.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ini bola yang pernah  saya ceritakan kepada Tuan dari kerajaan Buxiu, 4000 tahun yang lalu.
"Buxiu? Tak akan mati?"
"Iya, sesuai dengan namanya mereka tak akan mati." jelas Ciela.
"Tak akan mati. Buktinya mereka sudah tiada. Itu hanya sekedar nama bukan?"
"Tidak, mereka masih hidup."

Aku heran mendengar jawabannya, tidak masuk akal bila manusia 4000 tahun yang lalu masih hidup. 

"Bagaimana mungkin, memangnya mereka ada di mana?"
"Di suatu tempat, saya sendiri juga tak tahu."

Aku menyimpan bola emas itu ke dalam kantong barang arkeologi. Kemudian aku bawa ke ruang laboratorium arkeologi milikku. Kira-kira jam 5 sore aku mulai melakukan penelitian tentang bola tersebut di lab. Aku menggunakan sinar X untuk melihat isi dari bola tersebut. Di dalam bola tersebut terdapat molekul yang membentuk sebuah garis lurus yang cenderung merapat di sebelah kiri. Aku memutar bola tersebut dari sisi atas, dan akhirnya aku menemukan bentuk anak panah menunjuk ke kiri. Aku putar lagi ke arah kanan, tetapi molekul itu tetap saja mengarah ke kiri. Aku menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah kompas. Unik sekali, di zaman kekaisaran Cina 4000 ribu tahun lalu sudah ada kompas, luar biasa.

Aku langsung menyambar telepon rumahku dan menghubungi Ciela untuk memberitahukan mengenai kompas unik. 

"Ciela, sudah keteliti bola emasnya"
"Oh, iya Tuan. Mengapa Tuan lapor kepada saya?"
"Aku ingin kamu tahu Ciel."
"Oh, iya terima kasih Tuan sudah memberitahu. Apa perlu saya bantu?"
"Hmm.. besok saja datang ke labku."
"Baik, Tuan."

Keesokan harinya Ciela datang ke labku, aku menunjukkan bola emasnya kepadanya. 
"Lihat, bola ini. Aku gunakan sinar X untuk melihat molekulnya. Kau lihat panahnya mengarah ke sana. Coba kamu lihat kompas ini, menunjukkan arah yang sama bukan?"
"Coba Tuan bawa bola dan senter sinar X nya. Lihat sekarang berubah. kompasnya tetap menunjuk arah yang sama. Tetapi bola ini menunjuk arah yang berbeda." kata sambil menuntun tanganku.
"Berarti ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat benda ini." pikirku.


Malamnya aku merebahkan diriku di atas kasur sambil memikirkan di mana dan apa yang disembunyikan oleh bola emas itu. Aku menunda tidurku untuk melanjutkan penelitian bola emas itu. Aku nyalakan senter sinar X ku. Kuperhatikan arahnya molekulnya. Aku bawa bola itu keluar dan aku melihat ke arah di mana molekul itu mengarah. Arah molekul itu kemungkinan adalah Nanchang,  Wuhan, atau Beijing. Berarti aku harus mengeksplor kota-kota tersebut. Rencanaku besok adalah pergi ke Beijing. Kota penuh keramaian. 


Dalam tidurku, aku bermimpi sebuah gedung raksasa hancur di depan mataku, kemudian nampaklah cahaya-cahaya yang sangat terang. Saat itu juga cahaya itu melenyapkan orang yang kucintai. Namun siapakah yang hilang? Ayah? Ibu? Adikku?


Keesokan harinya aku pergi bersama Ciela dan 5 orang kru arkeolog ke Beijing untuk mencari tahu mengenai bola emas ini. Aku terus memperhatikan bola emas di genggaman tanganku. Aku berenam bersama kru arkeolog lainnya bersama-sama mengungkap rahasia dari bola tersebut. Di tengah perjalanan, bola emas itu tiba-tiba berubah makin terang cahayanya.


"Berhenti sebentar."
"Ada apa Bos?" tanya Lao, yang mengendarai mobil.
"Di mana kita?" tanyaku
"Wuhan. Masih jauh dari Beijing, Bos" jawab Lim rekanku yang duduk di samping Lao.
"Tapi kurasa di sini tempatnya."
"Memangnya ada apa Bos?" tanya Lao.
"Bola ini menyala, mungkin saja ada sesuatu di sekitar sini."


[To Be Continued . . . ]