Aku meninggalkan dunia ramaiku, mencari tempat kesunyian di mana aku menemukan kesederhanaan dalam hidupku di sana. Aku beranjak dari Jakarta menuju Wonosari, tepatnya di desa Jurang Jero yang berarti jurang yang dalam. Beruntungnya rumahku tidak jauh dari kapel tempat aku berkumpul dengan teman-teman. Aku tinggal bersama keluarga yang cukup mapan. Rumah yang tidak terlalu sederhana seperti yang kubayangkan. Keluarga yang aku tinggali adalah seorang petani, sawah dan ladang. Beliau memiliki ladang kacang, kangkung, singkong, padi, dan jagung. Ladangnya tersebar sangat jauh dari rumah sehingga aku harus menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lama untuk mencapai ladang. Jalan yang kutempuh bukanlah jalan datar, melainkan tanah, berbatu menanjak hampir 40 derajat miringnya. Itu baru satu hari, sedangkan orangtuaku bisa melakuakn itu setiap hari ketika panen. Benar-benar luar biasa, sungguh-sungguh melelahkan, padahal aku sudah merasa kuat untuk pekerjaan berat. Tetapi ini merupakan yang terberat dalam hidupku. Ternyata orang-orang desa lebih kuat dari aku bayangkan.
Kehidupan di sana jauh berbeda dengan di kota, ada beberapa yang sama seperti makanan. Makanan di rumah dan di desa hampir sama yaitu nasi, tempe, ayam kecil, kerupuk, mi dan lain-lain. Bahkan di desa bisa dikatakan berlebihan. Karena aku mesti menghabiskan makanan yang sudah disediakan. Kadang-kadang perut terasa ingin muntah karena kebanyakan makanan.
Urusan tidur dan kebersihan sangat jauh berbeda, aku harus terbiasa tidur di kasur keras, bantal keras tanpa guling. Satu kasur berdua, benar-benar sempit, karena teman sekamarku besar sekali. Tidur dengan atap langsung genteng tanpa langit-langit hanya dilindungi dengan kain tipis agar debu tidak kena di wajah. Tetapi tetap saja ada debu yang lolos dan membuatku bersin. Aku punya alergi terhadap debu. Jadi tiap malam aku selalu pilek. Urusan mandi, cukup sulit karena jauh dari rumah dan harus berjalan di sebuah turunan yang agak membahayakan jika tak hati-hati. DI kamar mandi itu terkadang ada kodok yang membuatku enggan untuk mandi. Kamar mandinya sudah modern, sudah ada pompa air dan temboknya terbuat dari semen.
Untuk hiburan selama live-in aku biasanya bermain dengan anak di rumah. Keluarga itu memiliki 4 anak. 2 di Jakarta dan 2 lagi di rumah. Aku lebih suka ngobrol, memberi makan, duduk-duduk dengan anaknya. Setiap hari kerjaanku jika tidak ke ladang adalah memberi makan kambing, sapi dan ayam, makan pagi, makan siang, makan malam. Kalau pekerjaan selesai aku biasanya membantu tetangga kupas jagung. Kalau pada malam hari aku menikmati acara TV bersama dengan keluarga, kami biasa nonton SpongeBob atau acara lawak lain. Tetapi kalau mereka sudah tidur atau tidak ingin menonton, aku lebih suka nonton film Korea. Tak kusangka ada channel Korea di desa ini, di rumahku saja tidak lengkap.
Adapun kebiasaan yang juga berbeda dengan di rumahku. Seperti makan bersama, aku selalu makan dengan bapakku, tidak pernah dengan ibu dan adikku. Setiap aku ajak makan bersama, mereka hanya bilang, 'nanti kami menyusul'. Aku akhirnya bosan mengajak mereka karena jawabnya hanya itu-itu saja. Mereka semua hafal dengan nama tetangga dari kakek-nenek hingga anak dan cucunya. Aku saja tidak pernah mengenal tetangga sendiri. Satu lagi ialah semakin rendah datarannya, maka semakin tualah penghuni rumah itu. Jika ada rumah di daerah dataran yang tinggi, berarti ia adalah anak dari rumah yang ada di bawahnya. Benar-benar unik sekali. Banyak hal yang bisa kupelajari dalam live-in ini, hal akan membawa perubahan bagi diriku
Adapun kebiasaan yang juga berbeda dengan di rumahku. Seperti makan bersama, aku selalu makan dengan bapakku, tidak pernah dengan ibu dan adikku. Setiap aku ajak makan bersama, mereka hanya bilang, 'nanti kami menyusul'. Aku akhirnya bosan mengajak mereka karena jawabnya hanya itu-itu saja. Mereka semua hafal dengan nama tetangga dari kakek-nenek hingga anak dan cucunya. Aku saja tidak pernah mengenal tetangga sendiri. Satu lagi ialah semakin rendah datarannya, maka semakin tualah penghuni rumah itu. Jika ada rumah di daerah dataran yang tinggi, berarti ia adalah anak dari rumah yang ada di bawahnya. Benar-benar unik sekali. Banyak hal yang bisa kupelajari dalam live-in ini, hal akan membawa perubahan bagi diriku