Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Aku tidak mengerti mengapa aku harus jatuh cinta dengan dia. Dia yang seorang pemusik, dia yang hidup dengan suara-suara merdu. Sedangkan aku hanyalah pendengar kebisuan yang tak akan mengenal suara, apalagi bising. 

Aku menyimpan CD itu di dalam tasku dan aku pulang ke rumahku. Keesokan harinya di tempat yang sama, aku bertemu dengan Dito lagi. 
"Selamat pagi."
"Pagi." balasku dengan singkat.
"Kau hari ini mau ke mana?"
"Beli sayur." jawabku sesingkat mungkin agar aku tidak dicurigai.
"Oh, hari ini kamu mau bernyanyi denganku?"
"Bernyanyi?"
Aku sebenarnya ingin sekali bernyanyi dengannya. Tapi apakah aku bisa? Aku tidak pernah mendengarkan lagu. Apalagi bernyanyi. Aku mencari alasan untuk menolaknya. 

"Aku harus cepat pergi. Ibuku menungguku."
"Kapan kau bisa? Aku akan menunggumu."
"Aku tak tahu."
"Tanyakan pada ibumu."
"Iya, akan kutanyakan nanti."

Aku segera berlalu darinya segera. Aku merasa berada diantara rasa menyesal dan lega. Menyesal karena tidak menerima tawaran Dito. Lega karena akhirnya aku tidak menyanyi sebab aku tak tahu lagunya dan aku takut jika Dito tahu bahwa aku tuli. Andai aku bisa mendengar suaranya, mendengar lagunya. Aku akan menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Aku akan mengulang terus lagunya berkali-kali. Namun kenyataannya adalah aku harus puas dengan melihat senyumannya saja. 

Keesokan harinya aku bertemu dengannya dan kali ini ia mengajakku kencan.

"Kamu mau jalan sama aku hari ini?"
"Aku tidak bisa, aku harus pergi." aku berusaha menghindar darinya. Aku tak mau hubunganku diperparah bila ketahuan aku tuli. Aku berusaha menolaknya berkali-kali.
"Mengapa kau tak mau?"  tanya Dito dengan penuh penasaran.

Aku menggelengkan kepalaku dan segera pergi darinya sebelum ia bertanya lebih lanjut. Tetapi tangan kiri ditarik olehnya sehingga aku pun tertahan. aku berhenti dan menolehnya. Aku melihat wajahnya yang penuh harapan kepada diriku. Tapi keputusanku sudah bulat, aku tak mau pergi dengannya. Aku tak mau hal buruk terjadi. Biarkan kita begini saja, tak ada hal yang lebih, aku juga tidak berharap lebih. Tangan Dito masih menggenggam erat tanganku, terpaksa aku melepaskan tanganku agak kasar. Aku berlari menjauhi darinya. Dito mengejarku, aku tidak menoleh ke arahnya sehingga aku tak tahu kalau Dito memanggilku atau mengatakan sesuatu. Aku berlari ke arah rumahku dengan cepat dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dito sepertinya tak berani masuk ke dalam rumahku. Aku mengintip dari jendela. Dito sudah lelah, ia menghela nafasnya berkali-kali. Ia tampak kecewa mengejarku, akhirnya ia pulang dengan lesu.


"Siapa dia?" tanya ibuku yang tiba-tiba hadir di sampingku.
"Dito, temanku."
"Kenapa tidak disuruh masuk?"
"Aku tak mau ia tahu lebih dalam tentangku." jawabku pelan.
"Temanmu Sabrina saja tahu. Mengapa dia tidak?"
"Aku jatuh cinta padanya, Bu. Aku tak mau ia pergi karena tahu aku tuli. Lebih baik begini saja, aku bisa dekat tapi aku tak mau hubungan ini berlanjut."
"Cepat atau lambat dia akan tahu. Kalau dia meninggalkanmu karena kondisimu begitu, berarti ia bukanlah laki-laki yang pantas untukmu. Tidak menerima apa adanya. Kita lihat saja apa dia lelaki yang benar atau tidak."

Perkataan ibuku benar, aku harus menguji laki-laki itu, aku tidak boleh terlarut dalam perasaan ini sebelum aku mengetahui apakah dia laki-laki yang baik atau bukan. Tapi.. aku tidak tahu apakah ia suka padaku atau tidak. Jangan-jangan tidak. Aku kegeeran berarti. Tapi aku tetap percaya diri. Aku menuliskan surat kepadanya yang isinya demikian,


Dito,
Maafkan aku selama ini yang selalu menghindar darimu. Aku tidak sama denganmu, aku tidak bisa mendengar, aku takkan pernah mendengar suaramu, aku takkan pernah mendengarkan lagumu. Aku tidak mengenal musik. Bahkan aku masih penasaran bagaimana suara piano itu? Orang bilang indah. Seindah apakah suara piano itu. Aku hidup dalam kesunyian, tak seperti dirimu bisa menikmati arti dari nyanyianmu. Aku hanya bisa mengagumi caramu menarikan jemarimu di atas piano. Itu saja sudah cukup bagiku


Velina.






Surat itu aku titipkan kepada Sabrina, sahabatku supaya ia memberikan surat itu kepada Dito, semoga Dito bisa mengerti. Aku tidak ingin Dito meninggalkanku karena ketulianku.


0 comments :

Post a Comment