Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Aku seorang gadis. Seorang gadis yang berbeda. Berbeda dengan gadis lain. Gadis lain bertelinga. Bertelinga dengan fungsi yang baik. Fungsi yang baik tidak kumiliki. Aku gadis tuli. Tuli sejak lahir. Aku tidak pernah mendengar suara ibuku. Aku tak pernah mendengar pujian ayahku. Aku tak pernah mendengar tawa sahabatku. Aku tak pernah mendengar lantunan lagu. Hidupku dalam kesunyian. Aku hidup dengan mataku. Aku hanya bisa menikmati pemandangan tanpa suara. Hal yang membahagiakan dalam hidupku adalah melihat orang lain tersenyum. Senyum tidak membutuhkan suara, tetapi sudah menenangkan hatiku.

Aku berjalan di sebuah mall di kota besar hendak membeli barang belanja kebutuhan sehari-hari. Cuaca cerah hari ini membuatku lebih bersemangat dari biasanya. Karena biasanya cuaca selalu berawan, namun tak pernah hujan. Aku sering melewati taman kota. Hari itu ada sebuah pertunjukan piano. Aku tak tahu dari mana asalnya. Pianis itu seorang laki-laki muda. Ia tampan, aku suka wajah tertunduknya ketika ia menekan tuts dengan jarinya sambil menyanyikan lagu. Entah lagu apa itu aku tak peduli. Aku bergarap ia akan memberikan sedikit sorot matanya kepadaku meski hanya kurang dari sedetik.

Benar! Ia memberi sorot matanya kepadaku tapi lebih  dari 1 detik, kira-kira 2 detiklah lamanya. Aku melanjutkan langkahku menuju supermarket di mall yang sudah tak jauh lagi. Kutinggalkan pianis itu. Berharap aku bisa melihatnya lagi. Meski aku tidak bisa berharap banyak dan aku tak ingin ia mengenaliku lebih jauh tetapi menatap dari jauh sudah membuatku tenang. Begitulah caraku jatuh cinta.


Setelah kuberbelanja, kukembali melewati jalan tadi. Pianis itu masih ada di sana baru saja menyelesaikan penampilannya. Aku merasa pianis itu mencari wajahku, aku agak sedikit malu untuk menghadapinya, namun aku coba untuk sedikit memberikan wajahku. 


Ternyata benar pianis itu mencari aku, Ia memberikan senyumannya kepadaku. Tidak ada yang tahu bahwa pianis itu sedang menatap aku. Aku langsung berlalu darinya melanjutkan langkahku ke rumah.


Keesokan harinya aku berjalan-jalan ke taman kota lagi, berharap aku bisa bertemu dengannya. Di taman itu tidak seperti kemarin. Taman itu sepi tidak ada orang. Ternyata dia tidak tampil. Ke mana aku harus mencari? Hmm.. sebaiknya aku pulang saja. 


Saat aku melangkah pulang, ada sebuah tangan menarik tangan kananku. Aku terhenti dan menengok ke belakang. Ternyata lelaki yang kemarin kulihat itu. Aku berusaha berkonsentrasi membaca gerak mulutnya. 


"Hai, ini buat kamu."


Aku membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengartikan bahasa mulutnya aku sulit sekali untuk menterjemahkan bahasa mulutnya. Aku sama sekali tidak mampu mengartikannya. Aku mengartikan bahwa lelaki itu ingin memberikan album CD-nya kepadaku. Aku sebenarnya ingin menolak karena percuma saja aku menerima, aku tidak bisa mendengarkan lagunya. Tapi kalau aku tidak terima, aku merasa tidak enak dengannya.


Aku menerimanya dengan senyum tanpa mengatakan apa-apa. Lelaki itu memperkenalkan dirinya, aku membaca gerak mulutnya. Dia bernama Dito. Aku mengangguk tanda bahwa aku mendengarkan. Lalu ia menanyakan namaku, aku berusaha menjawab seperti orang tidak tuli dengan jelas. 


"Namaku Velina." kataku dengan nada cukup keras.


Dito menanggapi dengan kata 'o'. Sehingga aku bisa menilai bahwa aku bisa berbicara dengan orang normal. Sebab selama ini aku jarang berbicara dengan orang lain selain orangtuaku dan sahabatku. Aku berpamitan pulang kepada Dito. Kemudian aku berlari meninggalkan dirinya agar ia tidak curiga aku tuli. Bisa saja ia memanggilku atau mengatakan sesuatu. Aku tak mau ia tahu bahwa aku tuli.


Setelah aku jauh darinya, aku berjalan seperti biasa. Aku berhenti di sebuah kafe kecil. Aku masih ke dalam untuk beristirahat sebentar. Aku duduk di kursi dekat jendela. Aku membuka CD pemberian Dito. Cover depan CD itu adalah fotonya dengan judul albumnya Hidup. Ada lima lagu di dalam CD itu. Judul lagu-lagu itu adalah Bertemu, Menjalin Cinta, Bersama, Masa Tua, dan Surga. Aku mengartikan itu sebagai suatu jalan hidup yang ditempuh oleh seseorang yang menerima panggilan hidup berkeluarga. Andai aku bisa mendengarkan lagu ini..


Percuma saja aku menerima CD ini, aku tak mampu mendengarkan isinya. Sebaiknya aku kembalikan saja CD ini, tapi sebelum aku kembalikan, aku meminta tolong kepada pelayan untuk memutarkan isi lagu tersebut. CD itu diputar hingga semua lagu selesai, aku tidak bisa mendengarkan lagu itu, tapi bisa merasakan beat lagu tersebut bergetar di hatiku. Ada energi baru dari Dito yang membuatku semangat untuk hidup meski aku tuli. 


Aku meminta penjelasan mengenai isi lagu tersebut dari pelayan kafe itu. Ternyata isi lagu yang berjudul Bertemu menceritakan tentang pengharapan akan hadirnya seseorang. Aku menjadi penasaran dengan suara. Tapi apa dayaku, aku tidak ditakdirkan untuk tidak mendengar suara.


[To Be Continued . . . ]

0 comments :

Post a Comment