Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Mimpiku, hidup seperti nyata. Mengapa bisa begini, aku sendiri pernah tahu. Di mimpi ada di nyata ada. Apakah De Javu ataukah bukan, apakah halusinasi, apakah bayangan saja, apakah aku gila, mana ada yang tahu. Jika malam aku di sini, maka aku bangun di suatu tempat lain saat tak terjaga, seperti punya dua kehidupan. 

"Tuan Adi, coba lihat ini." kata anak buahku yang juga seorang arkeolog sepertiku bernama Ciela. Ia menyerah kepadaku sebuah bola emas yang mirip hiasan pohon natal.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ini bola yang pernah  saya ceritakan kepada Tuan dari kerajaan Buxiu, 4000 tahun yang lalu.
"Buxiu? Tak akan mati?"
"Iya, sesuai dengan namanya mereka tak akan mati." jelas Ciela.
"Tak akan mati. Buktinya mereka sudah tiada. Itu hanya sekedar nama bukan?"
"Tidak, mereka masih hidup."

Aku heran mendengar jawabannya, tidak masuk akal bila manusia 4000 tahun yang lalu masih hidup. 

"Bagaimana mungkin, memangnya mereka ada di mana?"
"Di suatu tempat, saya sendiri juga tak tahu."

Aku menyimpan bola emas itu ke dalam kantong barang arkeologi. Kemudian aku bawa ke ruang laboratorium arkeologi milikku. Kira-kira jam 5 sore aku mulai melakukan penelitian tentang bola tersebut di lab. Aku menggunakan sinar X untuk melihat isi dari bola tersebut. Di dalam bola tersebut terdapat molekul yang membentuk sebuah garis lurus yang cenderung merapat di sebelah kiri. Aku memutar bola tersebut dari sisi atas, dan akhirnya aku menemukan bentuk anak panah menunjuk ke kiri. Aku putar lagi ke arah kanan, tetapi molekul itu tetap saja mengarah ke kiri. Aku menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah kompas. Unik sekali, di zaman kekaisaran Cina 4000 ribu tahun lalu sudah ada kompas, luar biasa.

Aku langsung menyambar telepon rumahku dan menghubungi Ciela untuk memberitahukan mengenai kompas unik. 

"Ciela, sudah keteliti bola emasnya"
"Oh, iya Tuan. Mengapa Tuan lapor kepada saya?"
"Aku ingin kamu tahu Ciel."
"Oh, iya terima kasih Tuan sudah memberitahu. Apa perlu saya bantu?"
"Hmm.. besok saja datang ke labku."
"Baik, Tuan."

Keesokan harinya Ciela datang ke labku, aku menunjukkan bola emasnya kepadanya. 
"Lihat, bola ini. Aku gunakan sinar X untuk melihat molekulnya. Kau lihat panahnya mengarah ke sana. Coba kamu lihat kompas ini, menunjukkan arah yang sama bukan?"
"Coba Tuan bawa bola dan senter sinar X nya. Lihat sekarang berubah. kompasnya tetap menunjuk arah yang sama. Tetapi bola ini menunjuk arah yang berbeda." kata sambil menuntun tanganku.
"Berarti ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat benda ini." pikirku.


Malamnya aku merebahkan diriku di atas kasur sambil memikirkan di mana dan apa yang disembunyikan oleh bola emas itu. Aku menunda tidurku untuk melanjutkan penelitian bola emas itu. Aku nyalakan senter sinar X ku. Kuperhatikan arahnya molekulnya. Aku bawa bola itu keluar dan aku melihat ke arah di mana molekul itu mengarah. Arah molekul itu kemungkinan adalah Nanchang,  Wuhan, atau Beijing. Berarti aku harus mengeksplor kota-kota tersebut. Rencanaku besok adalah pergi ke Beijing. Kota penuh keramaian. 


Dalam tidurku, aku bermimpi sebuah gedung raksasa hancur di depan mataku, kemudian nampaklah cahaya-cahaya yang sangat terang. Saat itu juga cahaya itu melenyapkan orang yang kucintai. Namun siapakah yang hilang? Ayah? Ibu? Adikku?


Keesokan harinya aku pergi bersama Ciela dan 5 orang kru arkeolog ke Beijing untuk mencari tahu mengenai bola emas ini. Aku terus memperhatikan bola emas di genggaman tanganku. Aku berenam bersama kru arkeolog lainnya bersama-sama mengungkap rahasia dari bola tersebut. Di tengah perjalanan, bola emas itu tiba-tiba berubah makin terang cahayanya.


"Berhenti sebentar."
"Ada apa Bos?" tanya Lao, yang mengendarai mobil.
"Di mana kita?" tanyaku
"Wuhan. Masih jauh dari Beijing, Bos" jawab Lim rekanku yang duduk di samping Lao.
"Tapi kurasa di sini tempatnya."
"Memangnya ada apa Bos?" tanya Lao.
"Bola ini menyala, mungkin saja ada sesuatu di sekitar sini."


[To Be Continued . . . ]

0 comments :

Post a Comment