Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Mencari bulan di siang hari

Tiada beda mencari surya di malam hari

Mencari pecahan guci tanah liat di taman tak berumput
Tiada beda mencari batu pualam di pantai berpasir

Mencari kebahagiaan di kuburan 
Tiada beda mencari kesedihan di acara ulang tahun

Mencari suatu yang dicari tiada pada letak yang wajar
Jadikan kemustahilan teramat terjadi

Seperti aku ini mencari di balik bumi 
Padahal sudah tersedia oleh Mahakuasa dari surga
Apakah kebodohanku ini telah mengelabuiku bertahun hingga begini
Menantikan kedewasaan yang tak terduga

Hingga dia yang dikirimkan Tuhan melekatku hari ini
Terima kasih Tuhanku.. 
Dear My God..


Beginilah kisah banyakan di suatu waktu

Sang induk berkata layaknya terpaham akan kebenaran dunia
Meski sang buah hati dalam proses pengertian

Menjalankan hubungan kasih disyaratkan persamaan suatu kepentingan
Sang induk membenarkan akan pengalaman dirinya
Perbedaan kelak jadikan variasi kehidupan meluaskan pandangan

Akan tetapi iman jadikan hal tervital dalam hidup?
Debat abadi sudah terlampir dalam benak keluarga-keluarga
Hina, sayang, galau, gelisah tercampur aduk tak beratur

Aku katolik, dia islam, dia kristen, dia hindu, dia buddha lalu?
Sang pencipta tiada mengatur perbedaan manusia
Namun kenyataan berkata sebuah katastrofi bila sebuah cinta terjadi di saat iman tak sama?

Inilah protes hatiku
Kepada orangtua ..
Kepada pemuka agama ..
Apakah dalam benak kalian tentang ini?



Hai gadis manis yang di sana
Kelak kah engkau menjadi milikku nantinya
Pertanyaan konyol tertuang dalam benak setiap bujang
Di masa muda saat beranjak puluhan yang kedua

Jangan tanyakan alasan cinta padamu
Karena tiada yang tepat jawaban kan kuberi
Katakan saja sedia denganku
Janjiku kau bisa pegang akan bahagia denganku

Aku berkain tipis putih kekotoran lumpuran ayam
Bawahan hitam seperti tukang las besi
Senyum tak manis bahkan jijik rasanya menatapku
Itu adanya aku, tak ada apapun

Ku mengejarmu hingga lautan terakhir
Hingga kamu melompat ke langit tertinggi
Hinggaku tak sanggup menggapai dirimu yang jauh 
Dan kusadari aku tak sanggup menggapai dirimu

Di kejauhan sana kamu menggandeng pria kelas tinggi setinggi langit di atas bumi

Aku tersenyum kecil ..

Kukira kau yang menjadi milikku
Aku tahu aku tak bisa terbang hingga langit tertinggi 
Karena batasku hanyalah 41.000 kaki
Kuterbang di bawah itu untuk melihat dunia ciptaan Tuhan bersamaku 
Namun kau malah memilih yang lain, yang justru tak mampu melihat dunia sekitar

Sejak itu dia aku siapa dan aku sudah meninggalkannya.. 
Inilah kisahku beberapa bulan yang lalu..



Dear pecinta aviasi,

Inilah aku ..
Penjelajah dunia dari ujung hingga ujung
Memandang bumi di atas langit surga
Tiada hari sekolah lagi melain liburan tak terbatas
Berkawan dari belahan dunia menyatukan umat manusia
Semangat setiap saat bidadari surga menemani hingga akhir perjalanan

Namun ..
Inginku hidup seperti mereka dalam rumah idaman
Sedangkan disini meraba langit dua lima jam sehari

Inginku menikmati kursi di atas awan yang kubawa sendiri setiap waktu 

Inginku memuji Pencipta di hari Minggu menikmati hidup dengan buah hati sedangkan kenyataan aku entah di mana berada hari apapun

Inginku dalam pelukan pasangan tercinta tanpa terpikir persiapan menuju langit sedangkan ini terpisah jarak tak sedikit jauh

Inginku bertukar kisah dengan mama dan adik tercinta tentang bidadari surga yang terbang bersamaku sedangkan waktu tak pernah menemukan kami

Inginku kenalkan bidadari kepada mereka sedangkan ini hanyalah hinaan tanpa alasan seakan bidadari adalah setan hina

Inginku menangis saat melihat penumpang sekeluarga tenteram dalam kursi kelas utama sedangkan aku terpisah dan nyaris hancur tak berayah

Inginku membina cinta suci hingga pelaminan tiba sedangkan ini hanyalah tuntutan hiperbola yang menyudahi hubungan kembang tak jadi

Inginku hidup lebih lama karena setiap saat kematian bisa saja terjadi dan kerinduan masih tertunda saat kuberada di langit

Inginku kalian tahu.. Aku seorang pengemudi udara dan pelayan langit yang berusaha menutupi rasa-rasa itu dibalik senyuman manis dan keramahan

Inilah aku.. 
Siapkah kalian menghadapi tantangan ini? 






Hai, gadisku calon masa laluku
Kerak hubungan suci kan berakhir di hempasan ombak kabungan
Sela-sela heningan malam bisikan cerita sesaat tahun lalu
Ingatkah akan semua telah berlalu dalam perjanjian yang terikat dalam lekatan tubuh berhati ketulusan ini

Mencintaimu dengan cara sepertiku lakukan tak ada lelaki mampu yang lain menyaingi . . .


Sentuhan jemari di lekukan tiap titik indah tubuhmu terucap syukur mendalam tak terhenti

Dekapan peluk mesra hangatkan jiwa dan hati yang dingin
Lidah terpagut saling mengunci satu sama lain membentuk ikatan tak akan pernah terlepaskan 
Gigitan sentakkan jantung dan darah yang lemas, menggetarkan semangat bagai bangun pagi
Angin nafasmu menyejukkan emosi negatif yang kelak terjamur
Kata-kata yang terucap di setiap getaran pita suara meyakinkan ini adalah cinta sejatiku

Tapi benarkah seperti itu?

Tidak.. aku sekarang jatuh dalam neraka cinta tak benderang
Aku lelah.. namun tak mau berakhir sudah
Haruskah dari 0 kembali ketika sudah mencapai 100 momen cinta dalam hidupku?
Haruskah aku menahan laju lari cintaku ketika aku sudah berada di kecepatan tak terbatas untuk menembus hari jadi kita di tahun berikutnya?

Haruskah aku merelakan yang sudah terbangun hancur oleh rayap-rayap perasaan pribadi? 

Jangan.. Jangan lakukan itu.. 
Kecuali kamu tidak menginginkan aku lagi..

Aku akan rela..



  



About this blog

Ketika dirimu ada di dalam lembaran-lembaran ini, kau akan melihat tulisan yang tertumpah dari benak-benakku

Labels