Aku turun dari mobil dan mengikuti arah anak panah yang menyala di bola itu. Ciela juga turun mengikutiku. Sementara yang lain mengikutiku dari dalam mobil. Aku terhalang oleh sebuah gedung aku berjalan di sisi gedung itu. Namun panah bola itu tetap menunjuk ke arah gedung. Apa mungkin ada rahasia yang tersimpan di dalam gedung tersebut?
"Bos, temukan sesuatu?"
"Belum, tapi sebaiknya kita masuk ke gedung ini."
"Ini Bank Cina. Bos mau masuk ke mana?"
"Aku juga tak tahu. Ikuti saja perintah bola emasnya"
Aku dan Ciela masuk ke dalam bank tersebut. Sementara teman-temanku memakirkan mobil. Aku meminta izin kepada pegawai bank untuk melakukan eksplorasi bank dengan penjagaan oleh satpam bank. Aku mencari sesuatu yang disembunyikan bola emas itu. Hingga akhirnya bola emas itu menyala sangat terang ketika aku dan Ciela sampai di sebuah ruangan kerja direktur bank tersebut.
"Apa yang anda temukan?" tanya direktur bank Cina itu.
"Entahlah, tapi bola ini memberitahukan petunjuk akan sesuatu." jawabku.
Aku meletakkan bola emas itu dilantai. Bola itu menggelinding sendiri mengarah pintu masuk ruang direktur.
"Apa lantai ini miring?" tanyaku kepada direktur.
"Tidak, gedung ini dirancang oleh arsitek profesional dari Amerika."
Aku memperhatikan dan mengikuti ke mana bola itu pergi. Lalu bola tersebut berhenti di suatu tempat yaitu di ruang kerja karyawan. Bola itu terdiam. aku berjongkok dan memperhatikan dengan seksama apa yang bola emas lakukan. Bola itu ternyata melubangi lantai dan jatuh di lantai bawah di lantai 5. Aku segera memperintahkan anak buahku untuk menangkap bolanya di lantai satu dan dua.
"Lao, Lim jaga lantai dua! Steve, Ben, dan Toni jaga di lantai satu."
"Siap Bos!" jawab mereka lewat handy talky.
"Ciel, ayo kita turun lewat tangga."
Aku dan Ciela menuruni tangga darurat untuk mengejar bola. Ketika aku berada di lantai 3 Lao memanggilku,
"Bos, aku tidak sempat menghentikan bolanya."
"Ke bawah sekarang! Steve lapor!" perintahku.
"Bola berhasil diamankan. Tapi kondisinya panas sekali, sekitar 70 derajat. Kami kurung dengan box besi."
"Bagus."
Akhirnya aku sampai di lantai dasar, aku melihat bola itu melubangi box besi. Lalu jatuh ke lantai dan melubangi lantai itu. Namun lubang yang dibuatnya lebih besar. Aku meminta semua untuk mundur. Tetapi Ciela malah maju ke depan.
"Ciela, mau apa kamu kenapa kamu ke sana?"
"Aku harus ke sana."
"Apa maksudmu?" di saat yang terdesak di mana aku harus meninggalkan tempat itu. Ciela malah mencari mati.
"Kau harusnya tahu."
"Tahu apa?"
"Mimpi."
"Mimpi?"
[To Be Continued . . . ]
0 comments :
Post a Comment