Sevila memulai curhatnya, ia membuka memori lama mengenai masa - masa ia pacaran dahulu dengan Edo. Edo sendiri terbuka memori lamanya ketika ia pacaran dengan Sevila di bangku SMA. Sevila terkenal pandai di bidang bahasa, terutama bahasa Jepang, bahasa Inggrisnya juga tidak kalah jagonya. Sedangkan Edo hanya bisa bahasa Inggris dan semua bidang IPA. Ketertarikan mereka terjadi ketika Edo mengenal bahwa Sevila jago di bidang bahasa dan ketika Sevila mengetahui bahwa Edo sangat jago di bidang MIPA. Hobi mereka ialah sama - sama suka tanaman.
"Edo, ingat gak dulu kamu kasih aku tulip berbetuk hati, jadi kalo dari atas bentuknya hati. Aku inget banget waktu pertama kamu nembak aku di taman deket rumahku."
"Inget dong. Kamu masih simpen bunga dariku?"
"Masih." jawab Sevila sambil menunjukkan bunga tulip plastik buatan Edo yang pernah diberikan kepadanya. Sebenarnya itu adalah bunga mawar. Hanya saja bentuknya dibuat oleh Edo menyerupai tulip.
"Wah kamu masih nyimpen!" Edo tidak menyangka bahwa Sevila masih menyimpan bunga itu.
"Aku kira kau sudah membuang bunga itu. Karena kau sudah punya yang baru."
"Tidak, aku takkan membuang. Ini akan menjadi kenangan manis untukku. Tapi sekarang, aku tumbuh perasaan padamu."
Edo terkejut mendengar pengakuan Sevila bahwa ternyata Sevila kembali tumbuh perasaan terhadapnya.
"Gak mungkin Sevila. Kau miliknya Timus. Kau pasti bercanda." Edo berusaha membubarkan pikiran - pikiran masa lalunya bersama Sevila.
"Aku serius. Makanya aku berkata begini." jawab Sevila meyakinkan.
"Bagaimana mungkin itu sudah lama sekali. Hubunganmu dengan Timus?"
"Timus, aku memang cinta padanya. Tapi aku sayang sama kamu. Kita putus bukan karena salahku atau salahmu, namun karena iman kita berbeda. Orangtua kita tidak setuju."
Edo terdiam mencerna perkataan Sevila. Memang benar tidak ada yang salah diantara dirinya dan diri Sevila. Edo sangat menyayangkan peristiwa itu. Ketika sebuah masalah terjadi perasaan mereka timbul kembali.
"Sekarang mau gimana?" tanya Edo berpasrah.
"Aku tak tahu. Kadang di saat aku gak mood sama Timus. Aku suka kepikiran sama kamu. Aku juga gak ngerti kenapa. Padahal kita sudah punya pasangan masing - masing. Apakah aku cinta sejatimu?"
Edo menggelengkan kepalanya tanda ia tak tahu jawabannya. Ia membasahi lidahnya dengan secangkir kopinya. Lalu melanjutkan pembicaraannya.
"Jalani saja. Kalau ada kesempatan kita bertemu, bertemulah. Aku pasti rindu padamu."
"Aku juga. Jangan sampai pasanganmu tahu akan hal ini. Siapa namanya?"
"Levani."
"Ya."
"Jangan sampai Timus tahu soal ini juga."
"Dia takkan percaya, kau kan sahabatnya sejak kuliah."
"Sahabat bisa jadi masalah kapanpun bila situasi tidak mendukung."
Hubungan Edo dan Sevila lama - lama semakin dekat seperti dulu. Mereka tahu bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang salah, namun mereka belum mampu melawan perasaan itu yang selalu muncul menghantui diri mereka. Setiap malam Edo meng-sms Sevila layaknya pacarnya sendiri meski tidak menggunakan kata - kata mesra, setidaknya memberi perhatian kepadanya. Begitupun juga sama halnya dilakukan Sevila kepada Edo. Semakin lama, perasaan mereka tidak tenang. Sevila mulai terganggu dengan rasa bersalah kepada Timus. Timus yang selalu menyayanginya, memberikan perhatian penuh kepadanya. Dan ia hanya menyia - nyiakan saja. Setiap ada sms dari Edo berisi tentang perhatian kepada Sevila selalu membuat Sevila gelisah. Ia berusaha agak Timus tidak mengetahui apa yang ia lakukan. Bila tahu, tentu Timus akan sakit hati.
[To Be Continued . . . ]
0 comments :
Post a Comment