Beauty of Words

These are my words. These are my stories

Melani, itulah nama seorang gadis cantik duduk di kelas 2 SMA. Siapapun yang melihatnya akan terpaku menatapnya. Apalagi kalau bukan wajahnya yang imut, menggemaskan, dan lucu kalau berbicara. Tentulah gadis secantik dia sudah punya pacar yang bernama Andre, seorang penari ice skating kelas dunia. Mereka sudah menjalin hubungan cinta kasih selama 3 tahun ketika kelas 9. Tentu sudah banyak suka duka yang dibagikan satu sama lain. Orangtua mereka juga sudah saling mengenal dan memberi isyarat positif bagi Melani dan Andre. Artinya hubungan mereka didukung kuat dari orangtua masing - masing. Tampaknya tak ada penghalang lagi yang menghalangi hubungan mereka. Tinggal menunggu umur, menunggu waktu, menunggu saat yang tepat untuk memasuki jenjang pernikahan. Namun suatu masalah menghantam salah satu dari mereka.  Andre dan Melani pun diuji secara alami kesetiaannya. 

"Maksud ibu?"
"Maafkan ibu, ibu baru bisa beri tahu kamu sekarang."
"Jadi.. aku tak akan bisa merayakan 17 tahunku?"
"Ibu tidak tahu.. "


Melani pergi ke kamarnya dengan lesu. Ditatapnya fotonya dengan Andre ketika liburan ke Lourdes, Perancis. Mengingat apa yang dikatakan ibunya membuatnya semakin ingin memutar waktu. Ia memiliki penyakit kanker yang sangat parah, tak terdefinisikan. Waktu hidupnya hanyalah 3 bulan lagi. Sungguh merupakan hal yang sangat berat baginya untuk menjalani hidup dengan batasan waktu yang ia sudah ketahui. Bingung dalam pikirannya apakah ia perlu beritahu Andre atau tidak. Apakah Andre mau menerimanya dalam kondisi yang begitu parah ini? Hidup serasa tidak berarti, waktu sudah mau habis, ajal akan menang menghampirinya. Rasa itu tidak bisa Melani pendam sendiri. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Andre untuk menceritakannya, ia berharap Andre bisa mengerti keadaanya.




"Hai sayang." sapa Andre.
"Sayang, aku mau bilang sama kamu, ini penting." katanya dengan nada galau.
"Duduk dulu lah sayang. Mau minum apa yang?" tanya Andre dengan senyum ceria. Ia tak menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Melani.
"Gak usah sayang. aku mau langsung cerita."
"Oh ya sudah ayo cerita." Andre siap mendengarkan cerita Melani dengan seksama.
"Aku harap kamu jangan marah, kamu janji kamu gak akan ninggalin aku."
Mendengar pemintaan Melani, membuat Andre menjadi bingung sepertinya ada rahasia yang belum diberitahukan. Ini membuat Andre menjadi penasaran.  


"Iya, tenang saja."
"Janji?" tanya Melani meyakinkan.
"Aku janji." jawab Andre dengan mengikat kelingking Melani.
"Aku punya kanker. Stadium 4, udah gak bisa ditolong lagi. Aku hidup hanya 3 bulan lagi."
Kata - kata Melani itu tiba - tiba menyambar jantung Andre. Andre mengedipkan matanya berkali - kali, berharap Melani tidak bercanda dengannya. tapi ia juga takut kalau berita itu benar.
"Kamu serius?"


Melani mengangguk, Andre pun menjadi sangat sedih. Jantungnya makin lari, badannya berkeringat ketakutan yang amat besar akan kehilangan Melani. Ia diam tak beranjak dari kursi. Ia memeluk Melani dengan penuh sayang. Keduanya meneteskan air mata saling membasahi bahu mereka. Benar - benar kenyataan yang sangat menyakitkan bila mengetahui pasangannya akan hilang suatu hari. 


"Aku akan membahagiakan dirimu, aku akan selalu menemani kamu, aku akan selalu di sisimu, aku berada di samping sayang. Jangan takut. Aku ada untukmu." 


Andre memeluk Melani lagi. Ia berusaha menenangkan pikiran Melani yang pastinya sedang kacau menghadapi situasi ini. Andre punya cara untuk menghabiskan waktunya dengan Melani dengan sesuatu yang berharga.


Bulan pertama Andre mengajaknya ke Taman Sakura di Cibodas. Melani sangat suka dengan bunga sakura. Pergi ke Jepang tentunya makan waktu lama dan jauh. Di Indonesia saja juga ada. Untungnya mereka datang pada saat yang tepat ketika bunga sakura sedang mekar. Melani dan Andre duduk tepat di bawah pohon tersebut, ada sebagian kecil bunganya yang jatuh ke tanah. Bunga itu diambil oleh Andre dan ditunjukkan bunga itu kepada Melani.


"Inget gak 3 tahun yang lalu, aku nembak kamu dengan bunga ini?"
"Inget dong sayang. Tapi kamu ngasi replikanya, bukan asli.." kata Melani tersenyum ketika ingat bunga sakura yang dulu dibawa Andre adalah replika, bukan asli.
"Itu hanyalah simbol sayang. Aku sengaja tidak memberikan bunga asli. Intinya adalah aku memberikan tanda cintaku padamu. Untuk memberikan cinta yang tulus aku harus berusaha memberikan yang terbaik dengan cara yang halal. Jika aku memetik bunga, maka bunga itu akan mati. Aku tak ingin ada yang terluka. Aku ingin semua bahagia ketika aku menjadi milikmu."
Kata - kata itu membuat hati Melani mencair.




[To Be Continued . . . ]

0 comments :

Post a Comment